Category Archives: Cerita

this is how things start… snowballing

So I met this old friend of mine on Facebook, we started to write on eachother’s wall, and then we sent message to each other and after that we exchanged our numbers. We talked on the phone a bit and started to add eachother’s YM ID. We chat and we chat. We flirt a little bit and we flirt a little bit more. And then we met in person and had lunch together. We couldn’t stop flirting during lunch until i reached my cellphone and called my spouse saying that I’m going to be home late. Then we went to a hotel and slept together. No feelings involved. Just casual sex. Not gonna hurt anybody.

What you don’t know won’t kill you!

Right?

Continue reading

Advertisements

2 Comments

Filed under Cerita, dongeng, iseng2, mumbling, some thoughts

genesis

Ini cerita bersambung yang pernah saya tulis di sebuah blog lama. Belom selesai di blog lama, dan ga yakin akan selesai di sini juga. Tapi karena sedang ga ada kemampuan untuk memproduksi tulisan yang baru, jadi ini saja saya posting. Itung2 lumayanlah buat baca2. Sebenarnya cerita ini saya tulis berduet dengan seorang teman. Kami berniat untuk menjadikannya sebuah novel. Tapi pas sampe di bab terakhir, kok ya macet dan bingung endingnya mau gimana. Akhirnya, ya mentok aja di hard disk komputer. Sedangkan yang saya tulis disini memang versi blognya, yang dimaksudkan sebagai versi prequel. Halah gilak bahasaaaa….!!!

So, Enjoy…! Cheers

Continue reading

13 Comments

Filed under Cerita, dongeng, iseng2

mimpi aneh

Terhuyung-huyung dan meraba mencari tembok kokoh, tangan kananku. Aku harus bersandar. Asap surgawi ini mulai merasuki rongga-rongga otakku. Seluruh duniaku berputar, tapi tak seindah putaran ketika dimabuk cinta. Rasanya seperti ingin menguras habis isi perutku. Cahaya itu datang silih berganti dengan kegelapan. Memaksa mataku bekerjap-kerjap tak terkendali. Dan itu sama sekali tidak membantuku meredakan dentuman di telinga dan kepalaku. Dan sekali lagi aku menghisap asap daun surga itu, untuk kemudian menghembuskannya ke dingin malam. Ah, kenikmatan surga duniawi.

Continue reading

19 Comments

Filed under Cerita, penat, some thoughts

Secangkir Caramel Macchiato Hangat

Sudah hampir dua jam aku duduk di depan jendela kamar kosku. Memandang keluar jendela tanpa benar-benar melihat apapun. Hujan yang tadi turun dengan derasnya sudah sempat berhenti dan berganti dengan gerimis kecil-kecil. Bukan suasana yang menyenangkan. Aku merapatkan pashmina yang sedari tadi menyelimuti bagian atas tubuhku. Matahari yang sedari tadi tertutup awanpun sekarang sudah mulai menghilang di peraduan. Langit mulai gelap. Dan lampu-lampu kota di kejauhan satu persatu mulai menyala.

Continue reading

11 Comments

Filed under Cerita

Sebuah Awal

Bandung, lima tahun yang lalu.

Aku duduk menghadap ke jendela kamar kosku. Menikmati setiap tarikan nikotin yang masuk ke dalam paru-paru. The Sundays terdengar sayup-sayup dari winamp player. Aku hanya terdiam memandang kosong ke langit yang gelap. Sudah beberapa hari ini mendung menggantung, sama sekali tidak membantu mencerahkan suasana hatiku yang kelam. Hitam. Gelap.

Bau lembab habis hujan masih juga belum hilang. Dan aku masih terus memandang kosong ke kejauhan. Mengharapkan sesuatu. Mengharapkan apa? Mengharap hujan turun lagi membasahi bumi? Agar hatiku yang dingin ini jadi bertambah dingin? Mengharap agar waktu bisa kembali? Kalaupun waktu bisa dibalikkan, lalu apa yang kuinginkan? Tidak membiarkannya pergi? Berharap tidak pernah mengenalnya? Tidak. Aku tidak pernah menyesal pernah mengenalnya. Tidak pernah menyesal pernah menjalin cerita yang indah dengannya. Tidak pernah menyesali apapun. Aku hanya tidak mengira semuanya akan berakhir seperti ini. Atau sebenarnya aku sudah menduganya, tapi aku malah sibuk membohongi diri sendiri bahwa: tidak, tidak akan berakhir seperti ini.

Kembali menyalakan batang rokokku entah yang keberapa. Menghisapnya dalam-dalam. Masih menerawang. Sesekali terngiang di telingaku suaranya di telpon.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Cerita

the life after

“Can I get you anything else, Penny?” tanya Shawn, Managerku. Manager kami.
“Nope, Shawn. Just make sure the boys will play good tonite,” jawabku sambil meletakkan tasku di lantai. “Oh, err, can I get some water, please? Yang dingin?” lanjutku sambil menahan tangan Shawn yang sudah hampir melangkah keluar dari pintu Lady’s room ini.
Shawn tersenyum sabar, seperti biasa. Lalu mengangguk. “Sure, Babe. Anything. Tunggu sebentar ya,” jawabnya sebelum menutup pintu.

Aku membuka Tasku, mengeluarkan kostumku malam ini, lalu menggantungkannya sembarangan di atas pintu toilet yang terbuka. Lalu aku mengambil tas make upku. Meletakkannya di atas marmer bak cuci tangan. Mendongak memeriksa lampu di atas cermin. Sepertinya cukup terang. Penerangan yang baik adalah kunci sebuah masterpiece make up. Dan lampu di toilet ini cukup terang. Be thankful for that, Penny, kataku dalam hati. Aku mulai mengeluarkan peralatan make up-ku. Memoleskan alas bedak, membubuhkan sedikit shading blush on berwarna coklat tua tepat di bawah tulang pipiku, kemudian menyamarkannya kembali dengan bedak padat. Memoleskan eye shadow warna coklat tua dan hitam di kelopak mataku. Smooky eyes. Dandanan inilah yang kupilih untuk tampilanku malam ini. Sedikit lipstick “Dessert Sand” Number 22 di bibirku. Maskara untuk melentikkan bulu mata, dan eye liner coklat untuk menegaskan garis mataku. Aku memandang ke arah cermin dan puas dengan dandananku. Kemudian aku berpaling ke terusan merah-darahku yang tergantung manis. Bahan sintetisnya akan menempel ketat di tubuhku. Segera aku menanggalkan tshirt dan jeansku untuk kemudian mengenakan gaun itu. Kemudian aku mengenakan boot hitam setinggi betisku. Dengan sentuhan akhir berupa crop cardigan berwarna hitam yang akan menyamarkan lenganku yang mungkin bahkan lebih besar dari tales bogor. Kembali aku mematutkan diri di cermin. Manis. Misterius.

“Babe, here’s yer water,” suara Shawn dari luar sambil mengetuk pintu.
Aku membuka pintu dan menerima gelas berisi air dingin itu.
“Thank God, Shawn. Lo ga tau betapa panasnya kamar mandi sialan ini. Kenapa mereka nggak pernah kepikiran untuk masang AC di kamar mandi sih?” kataku sedikit bersungut-sungut.
Shawn tertawa kecil. Ia selalu tahu kalau aku bersungut-sungut, aku hanya setengah bersungguh-sungguh mengucapkannya.
“I’ll find something better later, babe. It’s a promise,” katanya lagi tersenyum manis.
“Naah… nevermind it, Shawn. I was just babbling. It’s good enough, kok. At least cukup untuk bayar kosan gue dan beli rokok,” sahutku menenangkannya.

Itulah Shawn. Seorang manager yang paling perduli. Ia selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi kami. Sebenarnya kami tidak bisa menyebut kelompok kami sebagai band. Karena memang tidak ada musik lengkap yang kami mainkan. Kami hanya terdiri dari tiga orang. Aku, sebagai vokalis, Shred dan Edo memainkan guitar akustik sekaligus sebagai backing vocals. Kami biasa main di lounge-lounge atau cafe-cafe yang tidak terlalu ramai. Kami ada untuk menghibur orang-orang yang tidak ingin suara hingar-bingar musik diskotik. Sama seperti malam ini. Jumat malam, kami selalu tampil di Insomnia Lounge. Tempat para pekerja kantor melepas lelah dan menghindari macet dengan menikmati Irish Coffee yang terkenal itu. Dan Lounge ini biasanya akan jadi sangat ramai di hari jumat. Mungkin memang banyak pekerja kantoran yang jadi stress setelah seminggu penuh otak mereka di cekoki oleh urusan pekerjaan. Dan sebagai band kecil yang tidak terlalu terkenal, kami hanya memiliki toilet sebagai ruang ganti. Tapi itu cukup. Kami tidak perlu lebih. Dan Shawn, Shawn adalah keajaiban yang selalu berhasil mendapatkan pekerjaan buat kami, sehingga kami tidak perlu terlalu pusing memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan hidup kami. Karena hidup ini tak pernah kenal kata gratis. Aku tersenyum.

“Penny?” Shaw kembali mengetuk pintu.
“Yeap!”
“Are you ready?” Shawn melongokkan kepala dari pintu. “Five more minutes, babe,” lanjutnya mengingatkan.
“OK, I’ll be right with you, Shawn.”

-oOo-

Continue reading

Leave a comment

Filed under Cerita