hujan

Hari ini hujan, Petra. aku sedang menghitung bintang dalam khayalanku dan huruf “A” dalam cangkir kopiku. Ya, aku peminum kopi sekarang. Hanya Tuhan yang tahu di mana awalnya. Dalam hujan, aku teringat kata2mu, “Jalan itu berbatu, Eve. Kau akan membutuhkan tongkat”. Aku memang membutuhkan tongkat, Petra. Tapi bukan untuk berjalan. Hanya mengais. Ataukah itu sebenarnya maksudmu? Ah, kau memang selalu berbelit2. Ataukah aku yang terlalu tolol.

Ah ini bukan hujan pertama musim ini, Petra. Hanya sebulan sebelum musim mangga harum-manis. Hanya saja gulungan hawa panas itu tak tampak akan beranjak. Bergelung nyaman bersamaan dengan gulungan asap nafas nikotinku. Masih ada yang tak berubah didunia. Setelah sekian lama aku meninggalkanmu. Atau kau melupakanku? Yang kutahu, kita tak terpisahkan.

Hari ini hujan, Petra. Sama seperti waktu2 yang banyak kuhabiskan bersamamu, dahulu. Aku akan selalu duduk bernaung dibawah cerukmu, menumpahkan setiap mili-liter dingin, panas yang menggelegak. Kau ada di sana. Harusnya kubeli saja lilin lavender itu. Lilin itu selalu bisa menenangkan kita, bahkan disaat kita tak menyadari kepenatan kita.

Belalang itu masih menggangguku, Petra. Membantah semua yang kukatakan walaupun ia tahu itu benar. Dan kembali merangkak padaku disaat kesusahan. Ia bukan kau. Dan aku mencintai kalian berdua. Ah Petra, mungkin aku yang meninggalkanmu. Dan kau membuktikan padaku kalau kau selalu ada. Seperti saat ini kau ada, menemaniku menikmati hujan dan gangguan belalang.

Petra (Greek “πέτρα” (petra), meaning cleft in the rock; Arabic: البتراء, Al-Batrāʾ) is an archaeological site in the Arabah, Ma’an Governorate, Jordan, lying on the slope of Mount Hor[1] in a basin among the mountains which form the eastern flank of Arabah (Wadi Araba), the large valley running from the Dead Sea to the Gulf of Aqaba. It is renowned for its rock-cut architecture. Petra is also one of the New Seven Wonders of the World. The Nabataeans constructed it as their capital city around 100 BCE.[2]

The site remained unknown to the Western world until 1812, when it was introduced to the West by Swiss explorer Johann Ludwig Burckhardt. It was famously described as “a rose-red city half as old as time” in a Newdigate prize-winning sonnet by John William Burgon. UNESCO has described it as “one of the most precious cultural properties of man’s cultural heritage.”[3] In 1985, Petra was designated a World Heritage Site.

http://en.wikipedia.org/wiki/Petra

Advertisements

4 Comments

Filed under iseng2, mumbling, some thoughts

4 responses to “hujan

  1. Eru

    Ahaha welcome back,

    Don’t worry…
    Jalan itu berbatu kecil-kecil, kamu akan tersandung… itu wajar soalnya kalo batunya besar itu namanya nabrak
    *lostfokus*

  2. ahhh..ga ada bunuh diri bunuh dirinya..ga asik…
    *bikin siletnadi.com*

  3. *mendukung stey bikin siletnadi.com* 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s