genesis

Ini cerita bersambung yang pernah saya tulis di sebuah blog lama. Belom selesai di blog lama, dan ga yakin akan selesai di sini juga. Tapi karena sedang ga ada kemampuan untuk memproduksi tulisan yang baru, jadi ini saja saya posting. Itung2 lumayanlah buat baca2. Sebenarnya cerita ini saya tulis berduet dengan seorang teman. Kami berniat untuk menjadikannya sebuah novel. Tapi pas sampe di bab terakhir, kok ya macet dan bingung endingnya mau gimana. Akhirnya, ya mentok aja di hard disk komputer. Sedangkan yang saya tulis disini memang versi blognya, yang dimaksudkan sebagai versi prequel. Halah gilak bahasaaaa….!!!

So, Enjoy…! Cheers

Aku mendapati diriku duduk di depan tv yang menyala. Sebuah film drama romantis sedang diputar dari DVD player. Aku memegang sebuah mug berisi teh yang masih mengepulkan asap. Kusesap sedikit teh itu. Manis. Lalu aku meraih remote tv dan mulai mencari-cari channel yang memutarkan acara apa saja yang lebih menarik daripada sekedar film romantis, dan kecewa mendapati tidak ada acara apapun yang layak kutonton. Aku melirik jam di atas meja di sebelah tempat dudukku. Jam delapan lewat duapuluh menit. Semua tv swasta memutarkan sinetron bercerita hampir sama. Mertua kejam, perebutan harta dan kecemburuan yang berlebihan hingga sama sekali tidak terasa nyata. Akhirnya aku hanya memilih salah satu channel dan menekan tombol mute. Cukup kalau aku harus menonton sinetron-sinetron sialan ini. Kalau aku juga harus mendengar suaranya juga, dapat dipastikan aku akan segera bunuh diri sebentar lagi. Setelah mematikan DVD player aku beranjak ke kamar mandi, dan menuangkan isi mugku ke tempat cuci tangan.

Berjalan ke arah pantry, menuangkan kopi sesendok makan penuh ke mug yang tidak kucuci dahulu, kemudian aku menambahkan satu sendok makan gula putih dan air panas dari dispenser. Kopi satu banding satu. Favoritku. Sambil mengaduknya aku kembali ke depan tv. Melihat Meriam Belina sedang melebarkan matanya, marah-marah pada perempuan cantik dengan tampang tolol, yang aku yakin harus tidur dengan produsernya dulu sebelum akhirnya mendapat peran di sinetron itu, sambil berpikir bagaimana Meriam Bellina bisa terperosok begitu dalam ke dalam dunia persinetronan ini, dengan akting yang begitu dibuat-buat hingga terlihat konyol. Padahal seingatku, dulu dia termasuk bintang film layar lebar yang lumayan bisa diperhitungkan. Lihat saja Catatan Si Boy. Tidak terlalu buruk. Belum lagi segudang film lain yang dia bintangi. Memang kebanyakan film-film itu lebih banyak menyuguhkan dada dan paha. Tapi setidaknya tidak sekonyol sinetron-sinetron ini. Yah, mungkin uang memang jadi masalah utama seluruh umat manusia. Seluruh umat manusia kecuali manusia-manusia kaya yang dengan tololnya mau menginvestasikan uang mereka pada pembuatan sinetron tolol.

Menyeruput tegukkan pertama kopiku, aku melihat ke sekeliling. Menikmati sensasi mati rasa di lidahku karena panasnya kopi, aku berpikir bahwa aku harus segera keluar dari tempat ini. Pindah ke tempat yang lebih layak kutinggali. Bukan berarti tempat ini begitu buruknya buatku. Hanya saja aku selalu lebih suka tinggal di lantai atas sebuah bangunan. Semakin ke atas semakin baik. Apalagi untuk kota ini. Pasti pemandangannya akan sangat indah kalau aku tinggal di lantai tiga sebuah gedung. Dengan view kota yang berbukit-bukit. Bayangkan kalau malam. Ribuan lampu berwarna-warni seperti kunang-kunang. Kurasa tak akan ada yang bisa kusesali dengan kepindahanku ke kota ini.

Aku memang baru saja pindah ke kota ini. Kepindahan yang mendadak kalau boleh kukatakan. Aku sendiri tidak terlalu mengerti penyebab aku memilih kota ini. Tapi mungkin di alam bawah sadarku, aku selalu menyukai gunung dan udara yang dingin. Semua itu kudapat dari kota ini. Kota yang tidak terlalu besar tapi cukup menyediakan banyak peluang untukku dapat hidup di sini. Memulai sesuatu yang baru. Memulai hidup yang baru. Entahlah… Mungkin aku memang melarikan diri dari sesuatu saat pindah ke kota ini.

Memulai hidup yang baru. Yah, setidaknya kalau aku memang ingin memulai hidup yang baru, aku harus melakukannya dengan benar. Dan itu semua harusnya berawal dari tempat tinggal. Seharunya aku mulai mencari tempat tinggal yang sesuai dengan yang kuingini. Sebuah kamar kos saja cukup. Tidak perlu terlalu besar. Yang penting ada jendela dan terletak di lantai atas agar aku bisa menikmati semilir angin dingin yang ditawarkan kota ini. Yap, semakin ke atas tempat tinggalmu, semakin dingin udara akan kau rasakan.

Aku menyesap lagi kopiku, lalu menyalakan batang terakhir marlboro lightku. Lalu sambil menjepit rokok di sela-sela bibirku, aku mengubah kotaknya yang kosong menjadi sebuah asbak. Aku memang tidak pernah mempunyai asbak sungguhan. Biasanya aku mematikan rokokku di asbak yang kubuat dari kotak rokok kosong. Setelah itu aku kembali menikmati sedotan demi sedotan nikotin yang  meluncur mulus lewat tenggorokanku ke paru-paru.

Aku harus mendapatkan uang dengan jumlah yang cukup dan dalam waktu yang singkat untuk menyewa tempat seperti yang kuidam-idamkan. Untuk memulai hidup baruku sendiri. Tapi bagaimana caranya? Aku tidak bekerja, dan jelas tidak mudah untuk mencari pekerjaan sekarang-sekarang ini. Sementara harga kebutuhan hidup tidak semakin murah. Aku bisa saja mengirimkan hasil tulisanku ke majalah-majalah atau tabloid-tabloid atau ke mana saja yang bersedia membayar. Tapi aku tak yakin hasilnya cukup untuk memulai hidup baruku ini. Lagipula siapa yang mau membaca cerita-cerita bernuansa gelap yang di akhir ceritanya selalu saja ada tokoh yang mati? Aku memang benci cerita-cerita happy ending. Cliche! Cerita-cerita seperti itu biasanya penuh dengan perempuan putus asa yang mendambakan pangeran berkuda putih, yang datang untuk menyelamatkan mereka dari ketololan mereka sendiri.

Akhirnya aku hanya duduk disana, tetap menonton meriam belina yang memelototkan matanya tanpa suara di tv, sambil menyesap kopiku. Aku harus mencari jalan agar bisa segera mencari tempat baru dan kehidupan baru untukku.

>> Bersambung

Advertisements

13 Comments

Filed under Cerita, dongeng, iseng2

13 responses to “genesis

  1. HAJAR SELKOMTEL!

    halah salah tempat komeng.

  2. iyah..telkomsel emang lagi suxx abis nih..
    *pengguna telkomsel yang kayaknya salah komen juga deh..*

  3. telkomsel pancen oye!!!!

  4. Eru

    Happy ending ga harus Kuda Putih lah? bisa mercy putih,

    bisa lain-lain

    *mencoba ga salah komen, tapi kayaknya tetep salah*

  5. eve

    bener juga sih. Kuda putih mah nyusahin. sapa yang mo bersihin ek ek nya? Mercy putih, rumah di simprug, kolam renang, setaun skali ke dubai, mengunjungi rumah musim panas. BOooookk dubai kan panas terus?!?!?!

  6. link ‘>>Bersambung’ itu kok gak bisa diklik sih?

  7. Eve, what you need is …
    A Penthouse/condo with spectacular view … Pemandangan pantai diutara, pemandangan perbukitan hijau di selatan. Semakin keatas, semilir angin gunung nan alami.
    Tinggal cari penyandang dana aja … daftar daftar …

  8. eve

    aaaahauhauhauhau… ayo yang mau daftar ambil formulir dulu. 1 formulirnya (brapa sih skarang formulir masuk PT?). Abis itu ada test2 yang harus dilakukan untuk menemukan kandidat yang paling ok. Akan ada peringkat 1 sampe 5 *maruk*. Ihihihihihi

  9. jeng, mampir mo ngabsen, hehehe

    oot: novel kompilasi antar 2 pengarang itu sungguh menarik, knp gak diterusin say, keren loohhh..

    anyway, goodluck ya…(sorry kalo komentnya oot, lagi bener2 gak bisa buka mata nihhh, vertigo berat, anak gue terpaksa gue titipin sama sodara, trus jumat nanti harus mondok di RS. Kta dokter sih kemungkinan ada penyempitan pembluh darah.

    Ya ampun, gue asik2 curhat colongan aja yahh, hahaha

    Good work, terusin dong critanya…

    salam,
    Silly

  10. the difference between you and me
    I love happy ending. I am helpless romantic.
    Always trying to think a good side from every situation.
    Sometimes make other people angry, due they are in sad situation

  11. nairasmile

    cerita lama nda dipost lg? *berharap ada kata before sebelah bersambung*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s