one find day

Orang2 tua selalu bilang, “Sangat menyakitkan bila orang tua harus menguburkan anaknya”.

Apakah akan jadi lebih mudah bilang seorang anak menguburkan orang tuanya? I don’t think so. Saya pikir, keduanya sama beratnya. Kehilangan seseorang yang begitu dekat dan disayang, tidak ada yang mudah.

A very dear friend just lost his father. Saya nggak bener2 tau apa yang dia rasakan. Tapi kehilangan biasanya memberikan rasa sedih dan sakit. Yang bisa saya lakukan hanya mengucapkan kata2 cliche seperti “My deepest condolence and blablablabla”, yang menurut saya sebenernya nggak pernah cukup untuk mengungkapkan apapun, ataupun membuatnya terhibur. Dan untuk itu saya bener2 minta maaf.

Saya jadi teringat, beberapa kali membayangkan bila saatnya tiba, orang tua saya harus meninggalkan saya, apa yang akan terjadi. Setiap kali saya membayangkan hal ini, setiap kali pula saya menyerah. Setiap kali pula saya merasa tidak akan pernah siap. Tidak akan pernah merasa punya cukup kekuatan untuk menghadapinya. Mungkin saya akan meraung-raung, memohon, memelas, meminta agar orang tua saya untuk tidak pergi. Agar orang tua saya tidak diambil dari saya. Anak mana yang bisa siap ditinggalkan oleh orang2 yang selama ini jadi panutan, penjaga, pemberi rasa aman-nya? Saya tidak akan siap.

Saya sudah 15 tahun lebih hidup sendiri, geographically terpisah dari orang tua saya. Jadi saya sudah terbiasa hidup sendiri. Tapi saya yakin itu semua berbeda kalau mereka sudah benar2 nggak ada. Sekarang, walaupun kami berjauhan, saya masih bisa menelpon mami saat saya kangen. Berdiskusi tentang kamera apa yang harus di beli dengan papi. Atau, di saat2 saya sedang berada di level paling rendah kehidupan saya, di saat2 kesakitan saya, kesedihan saya, tiba2 mami suka tlp dan menanyakan bagaimana kabar saya, yang selalu saya jawab dengan kebohongan “baik2 aja, Mam” hanya supaya mami nggak khawatir. Masih bisa berantem hanya karena saya lupa membawakan free magazine di pesawat untuk papi. Atau berdebat tentang apakah baik bagi seorang gadis seperti saya pulang dari kantor jam 11 malem dengan mami.

Saya nggak akan mampu kehilangan semua itu.

Belum lagi rasa bersalah yang akan saya rasakan karena merasa belum benar2 bisa membahagiakan mereka. Masih banyak yang belum saya lakukan, yang bisa membuat membuat hidup mereka benar2 fulfilled. Waktu masih kecil, saya sering bilang sama mami “Mam, ntar kalo aku udah besar, aku mau beli rumah, dengan halaman yang luas, supaya mami bisa nanem2 pohon, ngerawat taneman, berkebun”. Saya belum bisa mewujudkan janji saya itu. Dan pada papi, “Nanti, kalau udah gede, mami sama papi ikut aku aja, biar nanti papi sama mami ada yang jagain, dan aku ada yang nemenin”. Janji itupun belum bisa aku wujudkan.

Oleh karenanya, sampai saat ini, saya suka menyempatkan pikiran saya melayang2 kepada Yang Membuat Kehidupan. Dan meminta agar waktu saya bersama orang tua saya diperpanjang. Paling tidak sampai saya bisa mewujudkan semua hal yang bisa membahagiakan orang tua saya itu. Mewujudkan semua janji saya. Saya tidak pernah meminta padaNya agar waktu saya diperpanjang sampai saya siap. Karena saya tahu, saya tidak akan pernah siap.

Advertisements

19 Comments

Filed under some thoughts

19 responses to “one find day

  1. cK

    euh… suatu tulisan yang membuat saya mikir. saya yakin saya juga belum siap apabila kehilangan mereka… šŸ˜

    *menunggu orang tua di rumah*

  2. Eru Reed

    Yeah. ga ada kehilangan yang mudah šŸ˜¦

  3. mmhhh… jadi kangen kampung & my lovely mom…
    anyway… salam kenal ya šŸ˜‰

  4. Kebetulan 2 bulan lalu baru ditinggal kakek ku …
    Jadi masih fresh juga rasa kehilangan.

    Welcome back.

  5. Eve… posting ini bikin saya menangis, bukan cuma untuk bubba, (my deepest condolences dear bub, I know what you feel this time), tapi juga untuk ibu saya, yang teman “seperjuangannya” (sesama pasien cuci darah) yang tiba2 dipanggil menghadap-Nya disaat dia juga sedang menjalani proses cuci darah…

    disaat yang persamaan, ada aja tangan2 jahil yang memanfaatkan kepanikan kita, untuk keuntungan pribadinya.

    Bubbb… Doa saya untuk papamu yah, semoga amal ibadahnya diterima yang maha kuasa, dan mama serta seluruh keluarga dibri ketabahan dalam menghadapi kehilangan ini.

    Salam prihatin,

    Silly

    (ps: eve, I believe He will give you the chance to make your parent proud of you. Time will tell my dear… *hugs*)

  6. EvilGenius

    My depeest condolences to Bubba, even though i never knew him personally, only from his comments scattered around in this blog.
    As for Eve, i believe your parents are proud of you already. What they really want now is to see you live happily, although sometimes they chose many strange ways of expressing it šŸ™‚

  7. m3i

    nothing can define the lost of our loved ones, esp sudden death like my dad 1 year ago..one day he’s fine and the next day he’s gone..still misses him until today n forever šŸ˜¦

  8. Turut berduka cita buat Bubba.

  9. completely irrelevant.

    I’m back.

    not writing back.

    just.. back. happy to see me?

  10. Tulisan yg sangat menyentuh.. šŸ™‚
    Salam kenal.

  11. Berkaca-kaca nih bacanga šŸ˜¦

  12. gua juga belum siap. Terpisah ribuan miles. Cuma bisa ketemu sebentar dalam setahun.

  13. silly me

    when the time comes, percaya deh kalo semuanya juga udah dipersiapkan.

    salam kenal, eve šŸ™‚

  14. dan aku harus mengutuki diri sendiri karena telat tau bahwa bubba baru kehilangan. maafkan aku šŸ˜¦

  15. respito

    Posting yang menarik, dan aku bisa mengerti, mungkin lebih jauh, mungkin lebih dalam, karena orang yang paling aku sayangi, ibuku, meninggal beberapa bulan yang lalu.
    Aku menungguinya di saat terakhir, membacakannya doa, mencoba meringankan deritanya (dan aku tak pernah tahu apakah itu ada artinya).
    Dan saat dinyatakan meninggal, yang kurasakan pertama adalah kekalahan. Kegagalan menyelamatkannya, atau mungkin, yang lebih jauh namun belum pasti, kegagalan membahagiakannya dan aku takkan pernah bisa lagi bertanya kepadanya tentang ini. Aku berharap aku bisa menangis, agar beban duka sekidit menguap, namun ternyata menangis juga bukan hal yang mudah.
    “Kematian hanya selaput gagasan yang mudah diseberangi”, tulis Subagio Sastrowardoyo. Namun bagiku gagasan yang tipis itu tidak mudah untuk dihadapi.

  16. buat gw yang udah pernah ngerasain ditinggal sama orang tua, mau ga mau lo musti siap dalam detik itu juga. apalagi gw cowok yg musti gantiin peranbokap buat ade2 gw. still have a lot things to learn…

  17. everything’s okay?
    havent seen any new entries from you for a while.

  18. stey

    elu kemana eve?

  19. ada saatnya dimana kata-kata tak berdaya dan pelukan menjadi sumber kekuatan ^^

    kematina hanyalah suatu transformasi dari fisik ke energi kasat mata, saya percaya mereka masih ada di sekeliling kita ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s