sekali puskesmas tetap puskesmas!

Ok, saya mengaku. Gigi saya jelek sekali. Lobang di sana-sini akibat terlalu banyak painkiller, antibiotik, dan nicotine yang menempel. Padahal dulu orang tua saya paling bangga dengan gigi saya yang sehat, bersih dan kuat. Ah, semakin tua semakin kurang perduli dengan kesehatan gigi sepertinya. Mungkin ini hasil dari kemalasan menyikat gigi di masa-masa kuliah.

Ada 5 lubang yang harus segera dirawat. Diperkirakan 3 harus ditambal dan 2 harus dicabut. Beberapa kali saya mencoba bermacam2 dan berbagai dokter dan klinik gigi, tetapi belum ketemu yang bener2 pas di hati, kantong dan gusi. Ada yang penanganannya salah, sehingga bukannya menyembuhkan gigi yang sakit, malahan membuat gigi yang nggak sakit jadi sakit. Ada yang udah penanganannya asal2an, kemudian pas waktunya membayar di kasir, tagihannya pingin membuat saya ingin mencakar muka mbak kasirnya. Mahal. neeekkk… Akhirnya, dengan rekomendasi teman, saya mencoba ke puskesmas (what, eve? Yes! Puskesmas!) di daerah kelapa gading. Jangan salah membayangkan puskesmas yang satu ini. Dengan 3 lantai dengan 1 lift dan full AC, membuat puskesmas ini terlihat sedikit lebih mirip civilied clinic. Plus MURAH pastinya. Inikan institusi pemerintah. Subsidi dong. Saya jadi berharap banyak dari puskesmas ini. Berharap akan diperlakukan sebagai civilized citizen.
But I was wrong…

Kemarin, saya sengaja minta ijin tidak masuk kerja kepada bos, khusus untuk membereskan gigi saya yang sudah merongrong kesehatan kantong jiwa saya selama beberapa minggu belakangan ini. Maka dengan gagah perkasa, masuklah saya ke puskesmas ini. Berbekal nomer antrian yang sudah diambilkan teman saya pagi2 hampir subuh sebelumnya. Setelah daftar, saya diharuskan membayar biaya administrasi sebesar Rp 2000. (yes! hanya 2000 rupiah!) Setelah itu, tinggal menunggu nomer saya dipanggil.

Setelah 2 jam dan 2 bungkus Whopper berlalu, akhirnya nama saya dipanggil. Begitu masuk ruangan, saya langsung dipersilahkan duduk di kursi penyiksaan periksa. Si dokter itu begitu ramah. Sampai manggil saya Sayang2an segala. “Kamu kerja dimana, Say?” Saya jadi curiga jangan2 dia binan. Trus mulai sibuk2lah dia mengkorek2 gigi sebelah kiri saya yang memang lobang tapi sedang tidak sakit sama sekali. Tanpa menanyakan keluhannya apa dan bagian mana yang sakit. Akhirnya malahan saya yang terus-menerus mengingatkan bahwa yang sakit adalah gigi sebelah kanan saya.

Saya : Dok, yang sakit yang kanan.
DG (Dokter Gigi Gila) : Nanti. Itu nanti.
*korek korek korek*
DG : Sebelum ini kamu emangnya ke dokter mana?
Saya : Di klinik gigi sana, deket lampu merah, sebelah kuburan itu lho dok. Tapi itu mahal banget dok. Sekali datang langsung abis deh gaji 4 taun.
DG : -tertawa- (Saya masih menganggap dia dokter normal yang ramah). Ya iyalah, itu kan daerah selatan. Rate dokter daerah selatan lebih mahal
*korek korek korek*
Saya : Dok, yang sakit yang kanan, Dok.
DG : Nanti. Itu nanti.
*korek korek korek*

Akhirnya, si DG itu mulai menambal gigi sebelah kiri saya. Saya masih tenang2 saja, karena saya pikir selesai dengan gigi sebelah kiri, dia akan segera membereskan gigi sebelah kanan saya yang sakit. Tembel punya tembel, setelah selesai dengan gigi kiri, tiba2 dia langsung mengambil tissue, mengelap tangannya dan berkata, “Yak, sudah selesai!” Dan saya langsung ternganga hebat. “Lho? Yang kanan dok?!” saya bertanya keheranan. Bukannya daritadi saya berkali2 mengingatkan bahwa yang sakit adalah gigi yang kanan. Lalu si DG menjawab dengan jumawanya, “Lho, ya nggak bisa. Sekali dateng ya cuman bisa ngerjain satu gigi!” Lalu masih terkejut saya menjawab dengan sedikit memekik, “ya kalo gitu kenapa bukan gigi yang sakit yang di kerjain?” Lalu dokter biadab itu bilang “Lha tadi kamu nggak bilang?” Dengan menahan emosi dan keinginan untuk menusuk matanya dengan garpu saya menjawab lagi “kan tadi udah berkali2 saya bilang, yang sakit kanan. Yang sakit kanan. Dokter bilang nanti2 terus, saya pikir diselesaikan hari ini sekalian.” Dan percaya nggak percaya, dokter itu menjawab dengan tidak pedulinya, bergaya artis, “Wah, nggak bisa gitu. emangnya saya dokter klinik pribadi kamu? Kalau maunya gitu, ya kamu pergi aja ke klinik mahal itu!”

ASTAGA!!!!

Saya nggak tau mau ngomong apa. Mau marah atau nangis, atau ketawa atau ngompol. Lha saya kan ke sini mencari solusi dari masalah gigi saya yang sakit. Tapi kok saya malah merasa nggak dapat solusi, malah merasa dihina gini yah? Langsung saya memasang muka jutek saya. Percayalah, muka jutek saya lebih nggak enak dilihat daripada pantat sapi. Dan hujaman pandangan saya, bisa membuat siapapun merasa bersalah yang tak tertahankan. Akhirnya si DG mencoba menenangkan saya, “Becanda, Say… Becanda. Kita cuman becanda aja kok. Tapi di sini peraturannya gitu. Cuma satu gigi sekali datang. Besok aja datang lagi. MURAH KOK! NGGAK MAHAL!” Lalu saya jawab sesopan yang dimungkinkan urat2 nadi di dahi saya, “Bukan masalah murahnya, Dok. Tapi saya kan ngantor. Ini aja bela2in mesti bolos kerja. Saya kan bukan pengangguran.” Lalu jawab DG itu lebih tolol lagi. “Ya itu resiko. Itu resiko.”

Segera saya keluar dari ruangan periksa itu karena merasa tidak lagi mampu menghadapi dokter barbarian tanpa melakukan pengrusakan serius pada organ dalamnya. Saya langsung mengajak Santoz yang kemaren berbaik hati menemani saya, dan mengajaknya ke lantai 1 untuk membayar tarif pengobatan sia2 ini. Hanya Rp 20rb saja, tapi bisa bikin darah tinggi menjelang stroke. Sambil mengantri, saya sempat cerita berapi2 kepada Santoz betapa bagusnya pelayanan di puskesmas ini. Dan setelah membayar, saya diharuskan mengembalikan bukti pembayaran ke ruang praktek DG itu. Karena malas, akhirnya saya minta Santoz untuk mengembalikannya.

Sedikit bocoran, Santoz ini bertampang Om2 tajir seperti pejabat tinggi pemerintahan. Saat mengembalikan bukti pembayaran, Santoz sempat menegur si Dokter Cacat Mental mengenai pelayanannya yang nggak memadai itu. Dan demi melihat seseorang yang tampak seperti pejabat tinggi pemerintahan, maka DG langsung kalang kabur, dan tergopoh2 meminta untuk memanggil saya kembali untuk dilakukan pemeriksaan ulang secara menyeluruh.

Tapi saya nggak mau. Malas! Huh! Emangnya kita murahan? >:P

Saya hanya jadi berpikir. Apakah karena ini adalah bentuk pengabdian pada negara, dengan gaji kecil, dan hanya melayani rakyat kecil yang nggak punya banyak pohon duit, maka tingkat pelayanan harus diturunkan serendah2nya? Semacam perkataan “Yah, namanya juga murah, nggak bisa ngarep banyak!” yang sering saya dengar. Tapi kalau memang berniat mengabdi, kenapa harus tanggung2? Kalau nggak mau mengabdi, sekalian aja nggak usah. Jangan akhirnya malah menghina orang seperti itu. Kata Santoz, “maklumlah, namanya juga institusi pemerintah.” Ah, pandangan saya jadi semakin miring kepada segala bentuk institusi apapun milik pemerintah. Saya yakin akan mendapat perlakuan yang berbeda dari Dokter Sakit Jiwa itu, kalau saya langsung datang ke tempat praktek pribadinya, atau klinik biasa dia praktek, yang mengenakan biaya Rp 150rb/gigi. Ah, duit memang segalanya sepertinya di dunia ini.

Dan yang lebih menyebalkan, ketika saya cerita seperti ini kepada salah seorang teman saya melalui YM, dia langsung menelpon ke Hp saya, dan tertawa sekencang2nya instead of mengucapkan kata “Halo”.

TTTDU (Teman Tak Tahu Di Untung) :HOAHKAKAKAKAKAKAKAKAKAKA….
Saya : Ojo ngguyu Ndes! Teman lagi kesusahan, bukannya mikir malah ngekek!
TTTDU : HUAAAAHAHAUHAUHAUHEUHAUEHUAEHUAHEUHAE
Saya : Asem ik!
TTTDU : Ndes, PUSKESMAS, Ndes!!! PUSKESMAS!!!
Saya : Mbuh!
TTTDU : Jaman wis modern ngene. The sims wis meh metu sing ke-3, XBOX wis murah, PS wis nganti PS telu. Ngopo kowe sek ning puskesmas? Rumah Sakit yo wis akeh sing nggenah kok. PUSKESMAS??!?!?! PUUUUSSSSKEEEESSSSMAAAASSSSSSSS?!?!?!?!?!?

*ttuuuuuttttt…..*

Saya matikan saja hapenya!!!
Hahahahaha… Puwas!!!

Advertisements

26 Comments

Filed under dongeng, mumbling

26 responses to “sekali puskesmas tetap puskesmas!

  1. Eru

    Hmm kapan ya gw yang ke dokter gigi…

  2. dwi

    salut sama puskesmas Indonesia! 🙂

    beneran lho! paling nggak, masuk ke ruang dokternya satu persatu, dokternya (walau gila) masih tetep tertawa dan tidak bau … hehe.

    waktu tinggal di cina, gw ke rumah sakit International (begitu tulisan di plang-depannya) buat priksa kandungan. hamil muda nih ceritanya . gedungnya boleh gaya, tapi…. masuknya 5 -an bersama pasien lainnya. dokternya bau bawang putih, kucel dan nggak ramah, dan bahasa inggrisnya nggak gue ngerti dan kedengeran kasar. si 5 pasien (termasuk saya) berbaring berjejer trus di priksa deh sama dokter.

    truss.. tambahan apes lagi, pas tranvaginal ultrasound ternyata ada ruangan khusus dam masuknya bertiga bareng pasien lainnya. sama juga,.. 3 tempat tidur, 3 mesin usg, 3 petugas pemeriksa. kita bertiga berjejer lagi…. beneran deh gue panik. kayak ikan aja dijejerin gitu.

  3. Wakakakakakakakakakkak… what a wonderful experience with such a stupid doctor like that.

    Asli Gilingan yee… dasar dokter katrok, pemalas. Untung gigi loe gak dicabut yach eve…

    Ya udah, lain kali jgn ke puskesmas dong ahhh… Klinik gigi dental care yg di monginsidi itu khan maskud loe?? 😀

    ada dokter cakep disana, tapi gue lupa namanya sapa… hihihihiiiii… kesana dech bokkk, (yg pas depannya KFC itu khan???). Dijamin betah di bor giginya selama berjam-jam… 😀

  4. Zulphiandie

    Klo mo ke puskesmas jangan ke yg berlantai tiga ber-lift & AC donk..

    Jangan biarkan nila setitik rusak susu sebelanga..

    Puskesmas di sini masih mengedepankan pelayanan kok.
    *dengan semangat 100 tahun kebangkitan nasional*

    Kekekekekekekkekekekekkekekekk…

  5. bwahahahaha….ya sudahlaaaahhh….terima nasib saja. bayar murah kok minta….

    *ditusuk pake garpu*

  6. ngakak abis baca percek cokan DG puskesmas dengan situ… 😀 udah bilang kanan yang sakit, malah kiri yang diperhatikan disuruh balik lagi pula buat nembel yang kanan..gyayayaya…. 😀

  7. aduh sorry gua mesti ketawa ini.
    hahahahahahahahahahaha
    tanpa henti
    ketawa lagi
    hahahahahahahahahahaha

  8. gue blm pernah ke puskesmas
    tp gilingan aja doketernya ampe males gt
    emang 20rb itu tuk 1 gigi ato 1 x pelayanan?

  9. bangkaihitam13

    arrrgh .. *nahan sakit digusi yg kiribagian bawah*
    eve napa jg loe pake bahas yg ini ?
    bikin gw jadi teringat sama penderitaan gw yg gw coba untuk tabah selama 3 bulan ini nyut,nyuut,nyuuUUuuUUuuUt
    damn ! 13x
    padahal dah minum asammefenamat setiap hari
    udah juga kumur pake airhangat&garam
    nasiieb ,nasiieb,nasieb..

  10. nairasmile

    ampun dehh……dokternya ajaib banget yakz…ckckckck….
    *jgn2 dokter palsu lagi*

  11. ya ampun tega amat tuh dokter.. gila itu bikin sakit hati aja yah.. btw itu puskesmas mana sih?? puskesmas cilandak bukan??

  12. duuuh … gigi yaa ??

    gerahamku udah dicabut satu, udah pakee lamaa bangets, sakiiit bangets …

    hiks hiks hiks :-((

  13. eve

    @eru : sumpah gue juga masih sakit. Besok berobat ke pondok indah saja. Tokai banget dah. Percumah gue bolos for nothing! Ketauan gue bolos buat tidur!
    @dwi : lho sapa yg bilang masuknya satu persatu? Selain saya ada 3 atau 2 orang lagi yang diperiksa. Pokoknya rame deh. Mereka ikut ketawa2 waktu si dokter itu sok2 becanda, dan iku kalang kabut waktu si Santoz negur si DG. Dan sapa bilang dokternya nggak bau?a
    @silly : Wah, kalo lagi dibor, kayanya sakitnya ga brasa deh bok. Pasti cuman brasa geli2 ngilu gitu deh… *pervert mode activated*
    @Zulphiandie : puskesmas dimana tuh? yakin begitu? Yang make lift dan ac serta di daerah perumahan elit aja begitu…
    @venus : iya yah mbok. udah murah kok minta macem2? YA IYALAHHHH….!!! Mereka kan menyediakan layanan pembetulan gigi!!!! SAYA MENUNTUT GIGI SAYA DIBETULKAN!! YANG SAKIT!!!! jangan yang nganggur2, ga bermasalah gitu. *keluh*
    @cempluk : ho oh tuh… rasanya pengen gue panah deh tu dokter.
    @paulkun : Eitshh paulkun… ngetawain orang yg lagi sakit gigi tuh hukumnya 40 tahun lho!!!
    @ordinary laska : 1 gigi kayanya sih, bow. Emang yah malesnya orang kita tuh. Ck ck ck.. melayuuuu melayuuu… hahahahahaha
    @bangkaihitam13 : pake abotyl bos. Kalo nggak kumurnya make listerine aja. mosok make garem sih? Asin dong. hehehehe… kalo bengkak, coba minum cataflam sama amoxan. 3xsehari abis makan, sampe abis. kalo sakit tambahin aja neuralgin. Iiihhh boookkk gue udah bisa jadi dokterrr…. *loncat loncat*
    @nairasmile : dokternya sih asli. cuman sayangnya hipokrit. sok mengabdi pada pemerintah (beneran ini, soalnya di dalem situ dia sempet gosip2 “ahhh.. si dokter INI tuh blablablabla… kalo dia ga mau mengabdi, ga usahlah. masih banyak kok dokter yang mau mengabdi!” Yang gue pikir dia nggak termasuk ke dalam dokter yang mau mengabdi itu!)
    @ridu : ah iya, denger2 cilandak puskesmasnya juga bagus yah? Bangunannya maksud saya. kalo pelayanannya sih… ga yakin yah. sekali puskesmas tetap puskesmas juga kali yah… well sorry, tapi gue akan terus berpikir begini, untill its proven otherwise. (apa sih booo?)
    @Hyudee : gue juga kayanya udah mati gaya nih. Lama2 nyerah cabut aja kali ni gigi. 😀

  14. Turut kesian, tapi gw gak tahan buat nggak ketawa :p

    Abis marah ama dokter sok gaya tadi, pasti rasanya tambah senut-senut ya Eve 🙂

  15. waktu kuliah kebanyakan ngurusin demo ya? ampe lupa sikat gigi.. :mrgreen:
    jadi kalo kasusnya gini mending sakit gigi ato sakit hati?

  16. stey

    udah lama banget ga masuk Puskesmas, terakhir kayaknya pas SMA, waktu sakit sampe ga masuk sekolah, tapi dokter gw yang biasa lagi liburan, akhirnya sepotong surat ijin dokter saya dapatkan dari Dokter Puskesmas..

  17. eve

    asli mending sakit hati, kang. Sakit ati mah bisa di paksain tidur. Da sakit gigi malah nggak bisa tidur sama sekali. Btw, kuliah ga pernah demo. Orang masuk kuliah aja males apa lagi demo2an. Mending nonton DVD ama maen the sims. hehehehe

  18. CY

    Wakakaka… baru tau nih, ternyata dokter gigi juga bisa OOT yach?? 😆

  19. wakaka…. yang kanan dok! K-A-N-A-N! harusnya gitu ngomongnya 😀

  20. Julie

    kamu.. sangat tidak elit, eve!

  21. cuma dikorek2 aja kan? untung ga dicabut semua 🙂

  22. untung lo sakit gigi ya? gimana kalo sakit kelamin bok..

    “dok, yang sakit kelamin kanan lho”

    “nanti.. nanti..”

  23. eve

    @bubba : bokkk… kalo kelamin sih… agak lamaan juga gue rela2 aja. *pervert mode on*

  24. Achmads

    anggap aja sebagai pelajaran yang berharga……..he..3x

  25. moahahaha, ini postingan paling bikin saya ngakak,
    aku yo podo dene, ke MDC sekali nambel 350,…
    WTF !

    tapi pelayanannya ruaaaaaaamahhhh, sampe kalo udah jadwal ditelfonin, habis dari sana disms, masih sakit gak, seminggu kemudian ditanyain, apakah warna tambelan gigi nya berubah gak, dan kalo berubah, diganti lagi gratis tis,.. ono rego ono rupo, babah wis larang2 sithik

    sing penting gak loro 🙂
    dan gak nggarai loro ati 😀

  26. lilie prima

    Ke puskesmas cilandak deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s