Sebuah Awal

Bandung, lima tahun yang lalu.

Aku duduk menghadap ke jendela kamar kosku. Menikmati setiap tarikan nikotin yang masuk ke dalam paru-paru. The Sundays terdengar sayup-sayup dari winamp player. Aku hanya terdiam memandang kosong ke langit yang gelap. Sudah beberapa hari ini mendung menggantung, sama sekali tidak membantu mencerahkan suasana hatiku yang kelam. Hitam. Gelap.

Bau lembab habis hujan masih juga belum hilang. Dan aku masih terus memandang kosong ke kejauhan. Mengharapkan sesuatu. Mengharapkan apa? Mengharap hujan turun lagi membasahi bumi? Agar hatiku yang dingin ini jadi bertambah dingin? Mengharap agar waktu bisa kembali? Kalaupun waktu bisa dibalikkan, lalu apa yang kuinginkan? Tidak membiarkannya pergi? Berharap tidak pernah mengenalnya? Tidak. Aku tidak pernah menyesal pernah mengenalnya. Tidak pernah menyesal pernah menjalin cerita yang indah dengannya. Tidak pernah menyesali apapun. Aku hanya tidak mengira semuanya akan berakhir seperti ini. Atau sebenarnya aku sudah menduganya, tapi aku malah sibuk membohongi diri sendiri bahwa: tidak, tidak akan berakhir seperti ini.

Kembali menyalakan batang rokokku entah yang keberapa. Menghisapnya dalam-dalam. Masih menerawang. Sesekali terngiang di telingaku suaranya di telpon.

“Kita terpisah terlalu jauh, sayang. Terlalu jauh dan terlalu lama.”
“Dia memberikan semua yang tidak bisa lagi aku dapatkan dari kamu.”
Semua? Apa? Perhatian? Kasih sayang? Cinta? Seks? Apa?
“Mungkin memang tidak seharusnya aku memintamu untuk menungguku. Itu tidak adil buatmu.”
Tapi aku sudah menunggumu. Dua tahun aku menunggu. Menyimpan hatiku, menutup mataku, menulikan telingaku.
“Sudah setahun ini kami bersama.”
Dan kamu baru sekarang kamu memutuskan untuk menghancurkan hatiku? Jadi setahun ini aku tak lebih dari sapi tolol yang membuang-buang waktu menunggu bintang yang tidak akan pernah jatuh?
“Penny, maafkan aku.”

Seharusnya kata maaf tidak usah di ciptakan. Membuat orang berpikir mudah saja mengucapkan maaf, dan semuanya akan selesai. Tidak akan ada hati yang luka. Tidak akan ada rasa sakit yang menusuk, membuat napas menjadi sesak.

Aku menggelengkan kepala, berusaha mengusir semua suara-suara itu. Kuhisap lagi rokok yang dari tadi hanya terselip di antara jari tengah dan telunjuk tangan kiriku. Membuang asapnya ke udara yang dingin menusuk, padahal sekarang sudah jam satu siang. Mungkin karena mendung pekat itu. Tidak ada air mata yang mengalir. Tidak sekarang, kemarin, atau bahkan tiga hari yang lalu. Saat Bimo memutuskan untuk akhirnya mengakui semuanya. Mengakui mengapa dia tidak lagi menelponku. Tidak lagi bertanya tentang kabarku, kuliahku, atau hanya menuliskan kata kangen di e-mail pendek yang biasa dia kirimkan. Mungkin memang jauh di dalam hatiku—dan mungkin tidak terlalu jauh—aku sudah tahu bahwa akhirnya akan jadi seperti ini. Atau hanya karena aku sudah begitu capek menunggu. Atau mungkin juga air mataku sudah begitu kering. Entahlah. Aku tidak tahu apa yang kurasakan sekarang. Sedih? Sakit? Marah? Lega? Entahlah.

Tiba-tiba pintu kamar menjeblak terbuka. Tubuh mungil berkulit putih milik Misha, salah satu sahabatku. Tubuh kecilnya tampak sedikit kerepotan membawa beberapa tupperware besar yang entah berisi apa.

“Neek, udah deh. Berenti meratapi nasib lo. Mendingan lo makan deh. Nih gue bawain macaroni panggang ama garlic bread. Gue masak sendiri nih” katanya sambil meletakkan bawaannya di lantai.

Aku hanya menoleh sekilas, mematikan rokokku untuk kemudian menyalakan sebatang lagi. Aku memang sudah menceritakan tentang hal ini pada sahabatku yang selalu ceria ini semalam. Dan hari ini dia datang dengan tangan penuh dengan makanan. Misha memang paling tahu bahwa satu-satunya yang bisa membawa keceriaanku kembali adalah makanan.

“Sebenernya lo juga udah tau kalo bakal kaya gini kejadiannya kan, nek?” tanyanya masih sibuk membuka tutup tupperware dan menyendokkan makaroni panggang ke piring kecil yang di ambilnya dari rak piring kecil di atas meja, di sebelah aquarium besarku.
“Iya gue tau. Cuman pas bener-bener kejadian kaya gini, ga bisa dipungkiri, gue bete juga, bok” aku menggeser dudukku menghadap ke arahnya. Segera kumatikan rokokku dan menerima angsuran piring kecil dari Misha.
“Tapi bukan berarti lo harus terus-terusan meratapi nasib gitu kan? Keluar kek, jalan-jalan kek, clubbing kek, ngapain kek” jawab Misha masih sibuk menyendok makaroni panggang untuk dirinya sendiri.
“Yah, boleh dong gue meratapi diri. Ini kan baru tiga hari, Sha. Masih masa berkabung. Come on, Sha, have mercy” kataku dengan mulut penuh. “By the way, kemampuan memasak lo mulai meningkat nih. Buktinya gue ga sampe muntah-muntah kali ini” sambungku lagi memasukkan suapan kedua ke dalam mulutku.
“Sialan! Udah bagus gue bawain lo makanan” katanya sengit sambil melirikku sinis. “Besides, makanan tuh salah satu obat paling ampuh buat ngelupain lelaki. Mau tau satu lagi obat yang lebih ampuh buat ngelupain mantan laki lo yang brengsek itu?” lanjutnya lagi.
“Apaan?” masih dengan mulut penuh tak peduli bahwa mungkin beratku akan segera naik beberapa kilo setelah melahap makanan yang berkalori tinggi ini.
“Cowok!” jawabnya sama sekali tidak menjelaskan apapun.
“Hah?!” Aku mengernyit tidak mengerti apa maksudnya.
“Iyaaa… Cowok baru! Tuh, obat paling ampuh buat ngelupain mantan cowok.”
“Please deh, Sha. Gue baru juga putus tiga hari. Masa gue udah nyari cowok lain sih? Nggak pantes, ah!”
“Hah?! Sejak kapan lo punya moral? Biasa juga belom putus lo udah pacaran lagi. Lagian, lo emang baru putus tiga hari, nek. Tapi kan, lo udah dianggurin selama setahun. Berarti itung-itung lo tuh udah menjomblo selama setahun.”
“Yah, ini bedalah. Lo tau kan gimana setianya gue nungguin Bimo.”
“Iya, lo setia, dianya main mata ama cewek Ukraina. Tolol deh! Lagian sekarang kan lo udah resmi putus. So, give your self a break.”
“Hhhmmmhhh… nggak tau yah, Sha.”
“Ayolah, gue ada temen cowok nih. Gue sms-in yah. Anaknya baik lho. Ganteng, mapan, lucu, seiman pula sama elo. Yah, cocok apa enggaknya ntar terserah lo berdua aja. Kalo belom mau serius, just a fling aja nggak papa kok. Yang penting lo bisa seneng-seneng, Hon. You deserve it!”
“Sapa sih? Jangan-jangan bekas lo lagi?”
“Nggak. Temen lama gue. Anaknya asik banget. Sama gilanya ama elo. Pasti cocok deh. Namanya Rey. Gue sms-in ya?”
“Ber-‘monyet’ nggak?”
“Wah, nggak tau juga gue. Kayanya sih enggak.”
“Iihh… lo tuh niat nggak sih nyomblanginnya?”
“Yah, ntar lo kan bisa nanya sendiri dia punya monyet apa enggak.”
“Ih, males. Lo kan tau gue paling males nanyain ‘eh, udah punya pacar blom?’ Kesannya gue desperate banget pengen jadi pacarnya. Males deh…”
“Udah deh! Nggak usah kebanyakan nanya. Ntar juga lo pasti tau sendiri.”
“Mau jadi matchmaker kok data nggak lengkap!”
“Brisik!” Misha memelototiku sembari tangannya sibuk mencari-cari handphone di dalam tasnya, kemudian sibuk memencet-mencet keypad.
“Bok, jangan dikirim dulu! Gue baca dulu. Jangan sampe sms lo memberikan kesan kalo gue murahan banget!” kataku tegas sambil mengambil sesendok lagi makaroni panggang dan beberapa potong garlic bread. Ternyata makanan berlemak dan berkalori tinggi memang bisa membuat mood jadi lebih baik.

Sementara Misha sibuk dengan mengetik sms di handphone-nya, aku menggigit garlic breadku sambil memeriksa e-mailku yang sudah tiga hari ini sama sekali tidak kubuka. Kostku ini memang sedikit istimewa. Kamarnya memang tidak terlalu besar. Tapi cukup nyaman hingga membuatku betah. Terlebih lagi, ada koneksi internet yang bisa tersambung langsung ke komputerku. Terletak di lantai dua, di mana di lantai satu terdapat warnet yang dibuka sebagai usaha sampingan oleh pemilik kos ini. Hanya dengan menambah Rp.150.000 per bulan saja, aku sudah mendapat koneksi internet pribadi 24 jam sehari. Dan yang paling aku sukai dari kamar ini adalah jendela besar yang menghadap ke halaman sebuah hotel berbintang lima di bagian atas jalan Dago. Aku bisa tahan berjam-jam hanya duduk sambil memandang ke luar jendela. Melihat mobil-mobil yang keluar-masuk halaman hotel itu sambil menikmati angin dingin yang berhembus masuk melalui jendela.

“Udah nih. Lo baca dulu deh” Misha membuyarkan lamunanku.
“Bentar.”

Sebelum membaca sms Misha, aku menumpahkan sisa-sisa remah garlic bread ke dalam aquarium. Biasanya Iwak–bahasa jawa dari ikan–, nama ikan lohan kesayanganku, sangat menyukai remah-remah roti. Dan benar saja, belum sampai ke dasar, remah-remah itu sudah ludes dilahapnya.

To: 081185XXXX
Hai, Rey. Pakabar? Eh, ada temen gw mo kenalan nih. Gimana? Gw kasih no hpnya ke elo yah. Anaknya asik kok. Baru putus cinta nih.

“Anjis, Sha! Kok jadi gue yang pengen kenalan sih? Bukannya elo yang maksa-maksa gue buat kenalan ama dia?” Aku memprotes isi sms Misha yang bukan saja membuat aku tampak murahan, tapi juga menyedihkan.
“Ya udah, gue ganti. Bawel deh!”
“Bikin gue terlihat bagus dong. Perempuan desperate itu gak ada menarik-menariknya di mata cowok.”
“Iya deh, tau, yang lebih pengalaman. Nih, baca!”

To: 081185XXXX
Hai Rey, Pakabar? Seeing anyone right now? Gw kenalin ama temen gw yah. Anaknya baik, asik, gila, seru. Lumayan kan buat nambah2 temen baru? Gimana?

“Gimana?” Misha mengambil sebatang rokokku dan menyalakannya.
“Yah, lumayanlah. Walopun gue nggak pernah bisa menyukai ide ‘dikenalin’ ke temennya temen. Tapi seenggaknya pertanyaan kita bisa terjawab. Udah bermonyet belom nih lelaki” jawabku. Aku memang tidak pernah mengenal konsep perkenalan seperti ini. Biasanya aku langsung berkenalan sendiri. Entahlah, dikenalkan oleh teman terdengar seperti sedang dijodohkan untukku. Dan konsep dijodohkan terdengar sangat tolol di telingaku.
“Ya udah, gue send yah?” tanya Misha sambil merebut handphone-nya kembali dari tanganku.
Aku hanya mengangguk, kemudian menyalakan sebatang rokok lagi. Sambil menikmati asap yang memenuhi paru-paruku, aku memperhatikan Misha yang sedang menekan tombol ‘send’ di handphone-nya.
“Nggak tau yah, bok. Tapi ternyata gue nggak sesedih dan sesakit yang gue kira” ujarku masih menatap kosong ke arah handphone di tangannya.
“Yah, gue rasa sih, mungkin karena lo sendiri emang udah menduga kalo kejadiannya bakalan kaya gini. Plus, kayanya lo sendiri juga udah kehilangan kemampuan lo untuk menangisi putus cinta sejak pacar pertama lo si… sapa?”
“Joe.”
“Iya. Sejak dia, lo ga pernah bisa nangis lagi kan kalo putus pacaran? Yah paling juga bete-bete dua-tiga hari, terus udah ketawa-ketawa lagi. Santai lagi.”
“Tapi gue pikir kali ini beda, Sha. Lo tau kan gimana setianya gue ama Bimo. Gimana sayangnya gue ama dia. Tapi anehnya kenapa gue nggak ngerasa sesakit yang gue bayangin? Dulu gue pernah mikir kalo gue bakalan ga bisa idup kalo sampe putus ama Bimo. Lo tau kan gimana tergantungnya gue ama Bimo?”
“Ya. Tapi ternyata lo bisa idup kan tanpa Bimo? Buktinya lo fine-fine aja di tinggal Bimo kerja ke luar negri.”
“Iya. Aneh…”
“Apaan yang aneh?”
“Ya itu, gue nggak ngerasa sesedih dan sesakit yang gue duga. Gue cuman ngerasa kesel. Marah mungkin. Marah karena dia biarin gue ngegantung, nungguin dia selama setaun for nothing! Marah karena dia udah buang-buang waktu gue selama setaun ini. Mestinya kan udah banyak yang bisa gue lakuin selama setaun itu. Bisa berapa lelaki yang gue pacarin coba dalam setaun? Marah, Sha! Bukan patah hati” aku menjawab berapi-api. Mematikan puntung rokokku yang segera kulanjutkan dengan menyalakan batang rokok yang berikutnya. Misha hanya diam menunggu aku menumpahkan semua kekesalanku. Sambil menghembuskan asap rokok ke udara yang semakin dingin karena di luar terlihat gerimis kembali turun, aku melanjutkan.
“Gue sama sekali nggak ngerasa dikhianati. Nggak ngerasa sakitnya ternyata Bimo ada pere lain di luar sana. Bukan itu. Gue cuman kesel kenapa dia nggak bilang aja dari awal kalo dia udah ada orang lain. Jadi kita bisa langsung work it out. Maunya gimana. Status gue bisa jelas. Nggak terkatung-katung kaya sapi bego selama setaun gini.”
“Mungkin dia nggak brani buat ngomong langsung ama elo. Ngaku kalo dia udah ada cewek di sana.”
“Lho ya nggak bisa gitu dong, bok. Sebelom dia berangkat, kita tuh udah sepakat. Kalo salah satu dari kita ada yang capek dan nggak tahan dengan hubungan jarak jauh kaya gini, atau salah satu dari kita udah nemu orang lain, kita harus saling jujur dan terbuka. Ngomong! Biar kita berdua nggak buang-buang waktu percuma.”
“Nah, makanya dia takut buat ngomong ama elo. Karena dia pasti mikir dong, elo aja belum nemu cowok lain kok. Berarti lo masih setia dong nungguin dia? Masa dia duluan yang harus ngaku ke elo, kalo dia udah ada ‘mainan’ baru” Misha menggesturkan tanda petik menggunakan kedua tangannya. “Ego-nya dia. Dia nggak mau dianggap sebagai yang nggak setia.”
“Yah, egonya dia ngebuang waktu gue. Dan itu ngebuat dia jadi bukan cuman seorang yang egois, tapi juga pengecut. Setan!”
Misha tertawa terbahak-bahak. “Ternyata lebih asik dengerin orang putus cinta yang marah-marah kaya lo gini yah, bok. Daripada dengerin orang yang patah hatinya nangis-nangis darah.”

Beep… Beep…
Suara handphone Misha menandakan ada sms masuk.

From : 081185XXXX
Hai, gw baek. Lo pa kabar? Wah boleh tuh. Temen lo sapa?

“Ih… Nggak menjawab gitu udah ber-’monyet’ atau belom” aku bersungut-sungut.
“Mau di jawab apa nih, Nek?” tanya Misha sambil mengangsurkan handphonenya ke arahku.
“Lhah? Ya elo dong jawab. Kan elo yang mo ngenalin.”
“Ntar gue jawab, salah lagi.”
“Yah, ntar jangan lo kirim dulu, ntar gue edit dulu. Biar gue terdengar sophisticated gitu. Hahahahaha…”
“Sophisticated cap e’ek kucing!”
“Hahahahahahaha…..”

To : 081185XXXX
Gw bae jg. Temen gw, namanya Penny. Gw ksih no hpnya ya. Biar lo bs langsung ngobs aja ma dia. 0815 185 XXXX.

“Sip! Kirim!” aku menyatakan persetujuanku setelah membaca isi sms itu.
“Ya udah tungguin aja. Biasanya sih dia modal. Kalo ga langsung telpon elo, yah paling nggak sms deh. Model lelaki well mannered lah dia mah” jawab Misha sambil mulai membereskan sisa-sisa makanan.

Beep… Beep…
Handphoneku.

To : 0815185XXXX
Hai Penny. Gw Rey. Gw dpt no hp lo dari Misha. Boleh kan kenalan? Kata Misha lo anaknya baik, asik, gila, seru. Gw mo buktiin sndiri. 🙂

“Tuh kan, gue bilang juga dia well mannered. Liat smsnya! Seolah-olah dia yang mo kenalan ama elo. Memberi ruang bagi ego kewanitaan lo” ujar Misha membanggakan barang dagangannya.
“Sstttt….! Gue bales apa?”
“Lhah? Ya terserah lo mo bales apa!”
“Ssssttt!!!!” aku mengibaskan tangan ke arah Misha seolah sedang mengusir lalat yang sedang terbang.
“Gila!”

To : 081185XXXX
Hai Rey. Iya ini Misha jg lg di tempat gw kok. Lagi asik memamah biak nih. Ada makaroni panggang ama garlic bread. Mau?


“Bok, jangan menampakkan kalo lo hobi memamah biak dong ah! Kan malu-maluin”
“Bodo! Kalo cowok mau ama gue, dia juga harus menerima kenyataan bahwa gue hobi makan!”
“You go, girl!!”

To : 0815185XXXX
Wah mau banget doong. Tapi lo tinggal di mana sih? Jkt ato Bdg? Kalo Misha kan nomaden tuh. Kadang bdg kadang jkt.

“Kok gue jadi merasa semacam gelandangan yah, bok?”
“Yah, seenggaknya lo gelandangan antar kota, Sha. Better-lah… Sedikit lebih bermodal.”

To : 081185XXXX
Gw di bdg. Lo? Jkt yah? Jauh aja. Tapi boleh sih kalo mau makaroni panggangnya. Yah, lo mesti usaha dikit sih. cuman 3 jam by car kok. :p

Dua menit berlalu.
Tiga menit…
Lima…
Sepuluh…
Aku masih menatap ke arah handphone yang tidak kunjung berbunyi, sementara Misha sudah dengan asiknya menggunakan komputerku dan menjelajah dunia maya. Aku meliriknya sebentar, ternyata Misha sedang tertawa-tawa kecil sambil chatting dengan temannya di messenger, sementara rokok yang dibakarnya dibiarkan saja di atas asbak tanpa dihisap sama sekali.
“Bok, kok ga bales-bales sih?” tanyaku gusar.
“Kali aja dia lagi dalam perjalanan ke sini” jawab Misha santai, seolah melakukan perjalanan mendadak dari Jakarta ke Bandung bukanlah masalah besar.
“Hah?!?” aku hanya bisa melongo.
“Makanya jangan nawarin apa-apa ke Rey, kalo lo ga siap kejutannya. Dia tuh emang gitu. Bisa tiba-tiba berangkat ke mana aja dia mau.”
“Hah?!? Sumpeh Lo?!?”
Tiba-tiba suara ring-tone handphoneku terdengar nyaring mengagetkan kami berdua.

081185XXXX
calling

“Nek, hari gini masih make hape butut dengan bunyi tulilulit gitu sih? Ganti napa yang pollyphonic?”
“Rey nih!”
“Ya angkatlah!”
“Ngomong apa?”
“Gila!”

Kuangkat handphoneku dan langsung terdengar suara berat, renyah, sedikit sengau di ujung sana.
“Halo?”
“Halo…” jawabku.
“Penny ya?”
“Iya. Rey ya?”
“Iya.”
Kami tertawa canggung bersama. Mungkin sama-sama bingung mau bicara apa. Apa yang harus dibicarakan oleh dua orang yang baru kenal lewat telpon?
“Sorry ya bales sms-nya lama. Lagi di kantor. Rada ribet ama kerjaan.”
“Hehehe… nggak papa kok. Gue malah yang sorry ngeganggu orang lagi kerja.”
“Basaaa…. Basiiii… Busuuuukkk….” suara Misha menyahut usil di belakangku.
“Misha ya?” tanya Rey.
“Iya tuh. Kaya nggak ada kerjaan aja nguping orang telpon.”
“Hahaha…”
“Sekarang lagi dimana, Rey?”
“Masih di kantor sih. Cuman kerjaan udah nggak seribet tadi aja. Jadi sempet nelpon.”
“Oh, emang kerja di mana?”
“Di daerah Mega Kuningan. Tau?”
“Ya tau lah.”
“Elo? Kerja? Kuliah?”
“Kuliah gue. Kerja juga sih. Nyambi gitu deh. Soalnya kalo kuliah doang, bisa-bisa mati bosen gue.”
“Hehehe… masa-masa kuliah itu kan masa yang indah?”
“Hah?! Nggak ada indah-indahnya deh. Kita bayar cuman buat disiksa ama tugas-tugas dosen. Yang indah tuh masa SMA. Maeeenn mulu kerjaannya.”
“Yah, gue pas kuliah juga kerjaannya maen mulu sih. Makanya berasanya indah-indah aja. Hehehehehe….”
“Emang nyambi kerja di mana, La?” sambungnya lagi.
“Oh, di radio.”
“Wah, penyiar dong?”
“Ha? Enggaklah… Hebat banget bisa jadi penyiar. Suara gue kaya kaleng rombeng diseret-seret gini.”
“Lho, suara lo kan serak-serak gitu. Biasanya penyiar kan suaranya serak gitu?”
“Hehehe… Tetep aja tidak berkualifikasi sebagai penyiar.”
“Jadi sebagai apa dong?”
“Produser aja. Lebih seru. Bisa nyuruh-nyuruh penyiar. Hahahaha…”
“Post power syndrome yah?”
“Hehehehe… iya mungkin.”
“Hehehehe… Ya udah deh, Penny. Pokoknya kita udah kenalan dengan cara yang agak lebih beradab daripada cuman sekedar sms. Gue kudu balik ke kerjaan nih.”
“Oh, ok deh. Met kerja yah.”
“Makasih. Ntar kapan-kapan gue telpon lagi boleh kan, Penny?”
“Boleh kok.”
“Eh, by the way, ada YM nggak?”
“Ada. Add aja.”
“Ok, bentar lagi gue add.”
“Ya udah. Kalo gitu bentar lagi gue accept.”
“Lho, emang di situ ada internet?”
“Ada dong. Kan kos-kosan super.”
“Wah, enak juga yah.”
“Ya, gitu deh…”
“Ya udah deh. Gue cabs dulu yah. Nice to know you, Penny.”
“You too, Rey. Bye”
Dan telponpun ditutup. Aku menoleh ke arah Misha yang ternyata sedang memperhatikanku sambil tersenyum-senyum.

“Kenapa sih ketawa-ketawa sendiri, bok?” tanyaku.
“And the story goes…” jawab Misha masih tersenyum-senyum janggal.
“Hhmmm… nggak tau deh, Sha”
“Nggak tau apa?”
“Belum click kali. Atau chemistry-nya nggak dapet.”
“Ya iyalah. Kan belom ketemu. Gimana sih lo? Ntar kalo dah ketemu, baru deh you can tell.”
“Iya kali yah. Cuman kan lo tau, kadang-kadang gue bisa langsung ngerasa click ama cowok walaupun cuman lewat telpon. Apa gara-gara suaranya sengau kali yah? Jadi agak kurang membuat gue ber’desir’?” aku menggesturkan tanda kutib dengan dua tanganku.
“Bok, biasanya yang suaranya jelek tu justru orangnya ganteng. Dan Rey sih emang ganteng. Yah, nggak ganteng sih. Manis gitu deh. Enak diliat.”
“Yah, ganteng buat lo blom tentu ganteng buat gue. Dan ngeliat Reno, pacar tercinta lo itu, gue jadi meragukan selera lo akan ganteng tidaknya seorang lelaki.”
“Jadi maksud lo Reno nggak ganteng?” Misha melotot protes ke arahku.
“Nggak!” Jawabku dengan tampak tak berdosa.
“Hehehe… iya juga sih.” Misha tertawa pahit mengakui kenyataan. “Ya udah, liat aja gimana kelanjutannya elo ama Rey ini ntar. Sapa tau pas udah ketemu lo bisa click” lanjutnya lagi.
“Yah, kita liat aja.”

(This is how it starts)
***to be continued***

Advertisements

Leave a comment

Filed under Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s