the life after

“Can I get you anything else, Penny?” tanya Shawn, Managerku. Manager kami.
“Nope, Shawn. Just make sure the boys will play good tonite,” jawabku sambil meletakkan tasku di lantai. “Oh, err, can I get some water, please? Yang dingin?” lanjutku sambil menahan tangan Shawn yang sudah hampir melangkah keluar dari pintu Lady’s room ini.
Shawn tersenyum sabar, seperti biasa. Lalu mengangguk. “Sure, Babe. Anything. Tunggu sebentar ya,” jawabnya sebelum menutup pintu.

Aku membuka Tasku, mengeluarkan kostumku malam ini, lalu menggantungkannya sembarangan di atas pintu toilet yang terbuka. Lalu aku mengambil tas make upku. Meletakkannya di atas marmer bak cuci tangan. Mendongak memeriksa lampu di atas cermin. Sepertinya cukup terang. Penerangan yang baik adalah kunci sebuah masterpiece make up. Dan lampu di toilet ini cukup terang. Be thankful for that, Penny, kataku dalam hati. Aku mulai mengeluarkan peralatan make up-ku. Memoleskan alas bedak, membubuhkan sedikit shading blush on berwarna coklat tua tepat di bawah tulang pipiku, kemudian menyamarkannya kembali dengan bedak padat. Memoleskan eye shadow warna coklat tua dan hitam di kelopak mataku. Smooky eyes. Dandanan inilah yang kupilih untuk tampilanku malam ini. Sedikit lipstick “Dessert Sand” Number 22 di bibirku. Maskara untuk melentikkan bulu mata, dan eye liner coklat untuk menegaskan garis mataku. Aku memandang ke arah cermin dan puas dengan dandananku. Kemudian aku berpaling ke terusan merah-darahku yang tergantung manis. Bahan sintetisnya akan menempel ketat di tubuhku. Segera aku menanggalkan tshirt dan jeansku untuk kemudian mengenakan gaun itu. Kemudian aku mengenakan boot hitam setinggi betisku. Dengan sentuhan akhir berupa crop cardigan berwarna hitam yang akan menyamarkan lenganku yang mungkin bahkan lebih besar dari tales bogor. Kembali aku mematutkan diri di cermin. Manis. Misterius.

“Babe, here’s yer water,” suara Shawn dari luar sambil mengetuk pintu.
Aku membuka pintu dan menerima gelas berisi air dingin itu.
“Thank God, Shawn. Lo ga tau betapa panasnya kamar mandi sialan ini. Kenapa mereka nggak pernah kepikiran untuk masang AC di kamar mandi sih?” kataku sedikit bersungut-sungut.
Shawn tertawa kecil. Ia selalu tahu kalau aku bersungut-sungut, aku hanya setengah bersungguh-sungguh mengucapkannya.
“I’ll find something better later, babe. It’s a promise,” katanya lagi tersenyum manis.
“Naah… nevermind it, Shawn. I was just babbling. It’s good enough, kok. At least cukup untuk bayar kosan gue dan beli rokok,” sahutku menenangkannya.

Itulah Shawn. Seorang manager yang paling perduli. Ia selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi kami. Sebenarnya kami tidak bisa menyebut kelompok kami sebagai band. Karena memang tidak ada musik lengkap yang kami mainkan. Kami hanya terdiri dari tiga orang. Aku, sebagai vokalis, Shred dan Edo memainkan guitar akustik sekaligus sebagai backing vocals. Kami biasa main di lounge-lounge atau cafe-cafe yang tidak terlalu ramai. Kami ada untuk menghibur orang-orang yang tidak ingin suara hingar-bingar musik diskotik. Sama seperti malam ini. Jumat malam, kami selalu tampil di Insomnia Lounge. Tempat para pekerja kantor melepas lelah dan menghindari macet dengan menikmati Irish Coffee yang terkenal itu. Dan Lounge ini biasanya akan jadi sangat ramai di hari jumat. Mungkin memang banyak pekerja kantoran yang jadi stress setelah seminggu penuh otak mereka di cekoki oleh urusan pekerjaan. Dan sebagai band kecil yang tidak terlalu terkenal, kami hanya memiliki toilet sebagai ruang ganti. Tapi itu cukup. Kami tidak perlu lebih. Dan Shawn, Shawn adalah keajaiban yang selalu berhasil mendapatkan pekerjaan buat kami, sehingga kami tidak perlu terlalu pusing memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan hidup kami. Karena hidup ini tak pernah kenal kata gratis. Aku tersenyum.

“Penny?” Shaw kembali mengetuk pintu.
“Yeap!”
“Are you ready?” Shawn melongokkan kepala dari pintu. “Five more minutes, babe,” lanjutnya mengingatkan.
“OK, I’ll be right with you, Shawn.”

-oOo-

Hold me closer tiny dancer
Count the headlights on the highway
Lay me down in sheets of linen
you had a busy day today

Aku menutup dengan chorus terakhir lagu Tiny Dancer dari Elthon John. Seiringnya, Shred dan Edo pun memainkan outro. Lampu panggung kemudian mulai diredupkan. Aku melihat ke arah penonton. Insomnia begitu penuh malam ini. Aku hampir tak bisa melihat wajah-wajah mereka. Ada sekelompok orang–5 atau 6 orang–, yang sedang menyantap makan malam mereka sambil tertawa-tawa. Mungkin merayakan sesuatu. Bebarapa pasangan yang terlihat mesra, berpegangan tangan sambil menikmati cangkir kopi mereka. Beberapa kelompok lelaki yang menikmati hembusan asap dari batang rokok mereka beserta beberapa pitcher beer. Hanya sedikit dari mereka yang benar-benar memperhatikan kami. Bahkan hampir tak ada. Tapi untuk itulah kami ada di sini. Sebagai pengisi suara latar dengan musik kami.

Outro dari dentingan gitar Shred mulai menghilang. Shawn tergopoh-gopoh membawa kursi ke arahku. Tersenyum berterima kasih, aku duduk di kursi itu. Memeriksa tumpukan kertas request yang ada di depanku.

“Ok, that was Tiny Dancer from Elthon John. And now, i have a bunch or requests here,” kataku mulai membaca. “Dari meja 20, from Edna to Dion, I will always–and I mean Always–, love you, but please, please don’t forget to put the toilet seat down next time. Minta lagunya Whitney Houston yang Sound Tracknya Body Guard itu. Hahaha,” aku tertawa kecil. “We’ll play it for you later, Edna,” aku mendongak untuk tersenyum kepada Edna di meja 20. Dan saat itulah pandanganku terhenti pada seorang lelaki di barisan depan. Lelaki itu bersama 2 atau 3 temannya sedang duduk di sana, memegang gelas birnya, tanpa sebatang rokokpun di tangannya–karena seingatku, ia memang bukan seorang perokok–, memandang tajam ke arahku. Entah sejak kapan ia berada di sana. Ah, seseorang dari masa lalu. Seorang yang pernah kucintai.

Kami saling berpandangan dalam waktu beberapa detik. Tidak ada seorangpun yang tersenyum. Tidak dia, tidak pula aku. Tatapannya masih sama seperti dulu. Tajam. Tanpa senyum di wajahnya membuatku teringat betapa aku selalu menyebutnya Si-Ganteng-Muka-Tampolan. Lalu aku berdiri dan menghampiri Shred, dan membisikkan sesuatu di telinganya. Kemudian kembali ke kursiku, duduk dan melepaskan mic dari stand-nya.

“This song’s called, I Can’t Make You Love Me from George Michael. One of my favorite sad songs. If this song really spoke to me, I hope it’ll speak to you as well,” kataku langsung di sambung oleh intro dari gitar Edo.

Turn down the light
turn down the bed
turn down these voices inside my head
lay down with me
tell me no lies
just hold me close
don´t patronise
don´t patronise me

Aku kembali memandang ke arah lelaki itu sambil menyanyikan bait demi bait lagu ini. Pandangannya serasa menghisapku dalam-dalam. Menghisapku ke waktu yang telah lalu. Waktu ketika kami masih bersama. Waktu terindah dalam hidupku. Waktu ketika lelaki itu memenuhi seluruh rongga dalam diriku. Seluruh partikel dalam tubuhku. Setiap nanometer dari kulitku. Waktu ketika satu sentuhannya merupakan seluruh dunia bagiku.

´Cause I can´t make you love me if you don´t
you can´t make your heart feel something that it won´t
here in the dark in these final hours
I will lay down my heart
and I feel the power
but you won´t
but you won´t

Aku memejamkan mata. Mencoba menghindari pendangannya yang membawaku ke dunia yang lain. Mencegah air mata keluar dari pelupuk mataku. Mengingat betapa aku mencintainya. Mencintai seseorang yang tidak berbalas. Apa yang lebih menyakitkan daripada itu? Mengingat bagaimana aku mencoba untuk mendapatkan cintanya. Mencoba untuk meyakinkannya bahwa aku layak. Layak untuk dicintai. Tapi mungkin cinta memang bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Atau diyakinkan. Dan aku kembali membuka mataku. Memandangnya lekat. Menikmati kerinduan yang aku tidak tahu ada tapi ternyata selalu kurasakan. Rasa yang kupikir sudah kulupakan.

I´ll close my eyes then I won´t see
the love you don´t feel when you´re holding me
mornin´wil come and I´ll do what´s right
just give me till then to give up this fight
and I will give up this fight
´Cause I can´t make you love me if you don´t

Lelaki itu meneguk beernya, kemudian meletakkan gelasnya di meja, seiring ketika aku menyanyikan bait kedua lagu ini. Masih menatapku tajam, ia meletakkan kedua sikunya di atas lutut, dan menumpukan dagu di atas kepalan tangannya. Matanya masih sama seperti dulu. Dan bagaimana otakku selalu tidak mampu bekerja dengan sempurna, bila sudah menatapku seperti itu. Maka aku kembali menutup mataku. Dan aku dibawa kembali ke kamar kosku beberapa tahun yang lalu. Kamar yang masih gelap tanpa lampu. Dan sinar mataharipun seperti enggan menyusup masuk dari sela-sela tirai jendela. Hanya ada sedikit sinar lemah dari balik pintu kamar mandi. Aku dan lelaki itu, berbaring sebelah-menyebelah. Nafasnya teratur menandakan ia masih tertidur lelap. Tangan kananku berada di perutnya. Entahlah… Ini seperti candu. Aku selalu meletakkan tanganku di atas perutnya sebelum tidur. Dan ya, itu membuatku tenang. Tenang dan nyaman. Membuatku lebih cepat tertidur. Aku mengusapnya pelan, takut mengusik tidurnya. Tapi lelaki itu selalu tidur seperti seorang bayi. Nyenyak, tanpa banyak bergerak. Lagu yang sama dengan yang kunyanyikan sekarang, mengalun pelan dari speakerku.

Tiba-tiba lelaki itu bergerak sedikit, membuatku menghentikan usapan di perutnya. Perlahan matanya terbuka, melihat ke arahku dan tersenyum. Tanpa berkata apa-apa, ia meraih tubuhku mendekat ke arahnya. Kemudian ia memelukku. Mendekapku erat. Posisiku sangat tidak enak waktu itu. Tapi aku toh akan memberikan apa saja agar ia mau mendekapku dengan cara seperti itu. Maka aku hanya diam. Bergerak sedikit hanya agar aku tetap bisa meletakkan tanganku di perutnya. Tapi dengan posisi seperti ini, tidak mungkin. Maka aku mengalihkan tanganku ke punggungnya, kembali mengusapnya pelan. Ah, seandainya waktu bisa dihentikan.

Menghirup bau nafasnya, parfumnya yang samar-samar masih memancar, aku berpikir, bagaimana orang yang tidak mencintaiku ini, bisa memelukku sedemikian erat? Dan mengapa? Mengapa ia tidak mencintaiku? Mengapa aku mencintainya? Mengapa?

´Cause I can´t make you love me if you don´t
you can´t make your heart feel something that it won´t
here in the dark in these final hours
I will lay down my heart
and I feel the power
but you won´t, no you won´t
´cause I can´t make you love me if you don´t

Aku kembali membuka mataku, menemukan lelaki itu masih di sana. Memandangku. Mungkin bermain-main dengan pikirannya sendiri. Mungkin memang aku tak akan bisa membuatnya mencintaiku. Aku tak bisa membuat ia merasakan sesuatu yang tak dirasakannya. Dan hal itulah yang akhirnya membuatku sadar bahwa aku hanya harus mencintainya. Mencintainya tanpa mengharap balasan. Mencintainya tanpa syarat. Membuatnya bahagia tanpa meminta apapun. Karena kebahagiaannya adalah kebahagiaanku. Cliche, but true.

Ain’t no use in you trying
It’s no good for me baby without love
All my tears, all these years, everything I believed in
Baby
Oh yeah
Someone’s gonna love me

Tapi ternyata aku hanyalah manusia biasa. Aku terus mengharap. Berharap ia merasakan apa yang aku rasakan. Mengharap ia menjadi milikku. Dan semua pikiran itu mulai menguasaiku. Menyakitiku. Dan akhirnya membuatku ingin berlari. Berlari kemana saja. Karena dekat dengannya terasa begitu menyakitkan. Berada bersamanya tidak lagi membuatku merasa bahagia. Dipeluk sekaligus tahu bahwa tidak dicintai. Mungkin memang lebih baik aku sendiri. Tidak akan ada yang menyakitiku. Aku tak akan membiarkan siapapun berada terlalu dekat denganku untuk bisa menyakitiku.

´Cause I can´t make you love me if you don´t

Aku menyelesaikan lagu ini, masih menahan agar tidak menangis. Dan lelaki itu, masih ada di sana. Masih tanpa senyum dan tanpa melepas pandangannya dariku.

“That was the last song from us for this session. We’ll be right back with you in an hour. Thank you and have a pleasant evening,” kataku menutup sesi pertama kami.

Tanpa melihat ke arah lelaki itu, aku segera turun dari panggung menuju ke meja yang sudah dipersiapkan untuk kami di bagian sebelah kanan panggung. Meminum aqua dingin yang sudah dipersiapkan Shawn untukku. Tanpa memperhatikan sekelilingku, aku menyulut rokokku. Menikmati hisapan pertamanya. Aku duduk menghadap tembok. Menolak memandang ke siapapun yang ada di belakangku. Terutama lelaki itu. Aku tidak ingin lagi dibawa ke masa lalu. Apa yang sudah kutinggalkan, biarlah tetap ada di belakang.

Tak lama Shred dan Edopun bergabung denganku. Kami berbicara mengenai song list yang akan kami bawakan pada sesi berikutnya. Mereka meneguk beer mereka masing-masing. Sementara aku tetap menikmati rokok dan aqua-ku sambil menahan agar leherku tidak menoleh ke belakang dan mencari sosok yang sudah sangat kukenal itu.

Saat itulah aku merasakan ada tangan yang diletakkan di punggungku. Belum sempat aku menoleh, segelas chocolate martini di letakkan di meja, tepat di sebelah tangan kiriku.

“Penny…,” suara itu, suara yang sangat kukenal. Suara yang sempat mengisi setiap hariku. Suara yang bahkan masih terekam di handphoneku.
Aku menoleh ke sebelah kiri, tepat di tempat lelaki itu sudah berdiri, masih memegang punggungku. Bahkan mengusapnya sedikit.
“Rey,” sahutku tanpa benar-benar mengerti harus mengatakan apa.
Lelaki itu tersenyum. “Ini minuman kesukaan kamu,” katanya kemudian.
“Makasih,” aku membalas senyumnya.
“Apa kabar?” tanyanya bersamaan dengan aku bertanya, “what are you doing here?”
Kami tertawa kecil bersama.
“Baik,” jawabku singkat.
“Aku lagi ada kerjaan aja di sini. Barusan kelar, jadi temen-temen ngajakin aku buat hang out dulu di sini,” sahutnya kemudian.
Kami terdiam. Aku menyesap chocolate martini yang diberikan padaku setelah sebelumnya mengangkat gelas ke arah Rey sebagai tanda ucapan terima kasih.
“Can I talk with you for a minute, please?” tanyanya kemudian sambil menyentuh tanganku.
Entahlah, tiba-tiba rasa sakit itu kembali menderaku. Sakit sekaligus rindu. Rasanya aku ingin memeluknya erat dan tak melepasnya lagi. Tapi aku tahu bahwa aku tak akan memilikinya. Sama seperti aku tak bisa memilikinya dulu.
“Makasih minumannya, Rey. Maaf, aku harus nyusun song list untuk sesi kedua,” sahutku menolak berbicara dengannya. Aku tidak mau lagi memulai sesuatu yang tak bisa kuselesaikan.
“Oh, ok. I’ll wait then. Aku tungguin sampai kamu selesai nyanyi?” tanyanya tanpa mengerti maksudku.
“No, Rey. Aku nggak tau apa yang mau kamu omongin. Tapi, sudahlah, biar yang sudah berlalu tetap tinggal di belakang.”
“Tapi…,” jawab Rey terhenti.

Aku meraih tangan kanannya, melihat kuku jari kelingkingnya, yang dulu selalu kububuhi kuteks bening. kini tanpa kuteks. Tersenyum dan menggenggamnya sebentar. Aku tak bisa membendung air mata yang sudah kutahan dari tadi. Lalu aku mendongak menatap langsung ke matanya. Aku menarik nafas panjang dan tersenyum. Rey hanya menatapku. Kemudian perlahan tangan kirinya terangkat, menghapus air mata yang meleleh di pipiku. Mengusapnya sebentar lalu tersenyum dan mengangguk. Meraih kepalaku, mendekapnya di dada sebentar, dan mencium ujung kepalaku. Kemudian ia beranjak pergi. Sementara aku terus mengikutinya dengan pandanganku. Melihatnya membereskan barang-barangnya di meja, meninggalkan beberapa lembar uang pada teman-temannya, kemudian pergi keluar dari lounge ini. Pergi dariku. Sama seperti yang pernah kulakukan padanya dulu.

Aku melihat punggungnya bergerak semakin jauh dan menghilang di balik pintu.
Hhhh… Aku menghela nafas panjang.
Why doesn’t he love me?
Mungkin aku memang tak pernah layak untuk dicintainya…

(Sebuah catatan dari duniaku yang lain. Kalau kamu merasa pernah membacanya, berarti kamupun telah ikut berkelana di duniaku yang lain itu.)

Advertisements

Leave a comment

Filed under Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s