happy valentine’s day

“Valentine’s Day sucks!!!”

Sering kali saya mendengar kalimat ini terlontar. Biasanya reaksi saya hanya tersenyum atau bahkan tertawa terbahak-bahak. Saya punya alasan tersendiri untuk mentertawakan para “Valentine’s-Day-Haters”. Plural. Karena, percayalah, ternyata banyak orang yang melontarkan pernyataan ini.

Menurut pengalaman saya, para V-Day hater (V stands for Valentine. Not Vagina! Because i think everybody would love a Vagina-Day!) ini adalah para jomblo2 merana. Orang2 yang nggak punya siapa2 untuk share hari kasih sayang ini. Mungkin mereka memutuskan untuk menjadi sinical karena dengan begitu akan lebih mudah buat mereka menjalani hari valentine ini sendirian.

Kemungkinan kedua, mereka ini adalah orang2 yang baru saja patah hati. Baru saja merasakan (dan akhirnya menyimpulkan) bahwa cinta dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya adalah hal yang menyebalkan, menyakitkan ataupun murahan. Memutuskan untuk mengutuki, mencaci dan menganggap rendah segala sesuatu yang berhubungan dengan cinta. Mungkin denial bisa membuat mereka merasa lebih enak. Bisa meringankan beban hati mereka yang sedang sakit. God have mercy for their souls.

Biasanya tawa saya akan semakin keras kalau yang mengucapkan kalimat hujatan di atas adalah kaum hawa. Biasanya saya akan menjawab, “ah, sucks.. sucks… tapi kalo ada batangan yang tiba2 dateng dan ngasih lo bunga juga lo akan klepek2!” Sama seperti yang ungkapkan oleh Jeng Ini. Sedangkan untuk para lelaki, mungkin lebih kompleks. Bisa jadi mereka benci hari valentine karena itu berarti mereka harus mengeluarkan dana lebih untuk menyenangkan pasangan mereka. “Why should we wine and dine someone first to get laid?” pasti begitu pikir mereka! Atau yang lebih menyedihkan, udah ngeluarin duit banyak untuk wine and dine but still dont get laid! Hahahaha… Atau alasan lainnya, ya itu tadi, abis di khianati oleh perempuan lacurnya, yang udah di wine and dine, udah pula get laid, tapi ternyata si perempuan punya partner get laid yang lain! Para lelaki itu sangat sensitif ternyata yah? Bisa juga para lelaki itu hanya nggak mau dianggap chezy kalo ikut2an mengagung-agungkan hari valentine seperti para perempuan. Bisa juga mereka hanya sama sekali nggak peduli dengan hari valentine.

Tapi kalo nggak peduli, kenapa juga harus membenci hari valentine? Nggak make sense kan?

Saya sendiri? Saya dulu sempat jadi seorang V-day Hatter. Bahkan saya biasa menyebutnya “FUCKlentine’s Day”. Kenapa? Karena saya nggak mau dianggep cewe cheezy, dan lebih2 lagi, karena nggak ada lelaki bodoh yang mau memberi saya segala tetek bengek coklat, bunga atau teddy bear. Hahaha…

Sekarang, saya bukan lagi pembenci hari valentine, bukan juga pemuja. Tapi pastinya saya juga mengharap ada orang yang cukup sayang sama saya, yang akan ngajakin saya dinner, membelikan bunga dan coklat, lalu berdua bergelung di depan TV, nonton film2 yang diromantisasi oleh hollywood secara spektakuler, sambil makan coklat. Tapi itu semua akan jadi indah, kalo si orang ini juga jadi bahagia dengan melakukan itu semua untuk saya. Dan bukan hanya karena itu keinginan saya. Bukan hanya karena saya minta. Sunguh bayangan yang sempurna atas sebuah romantisme, bukan?

Valentine ini, mungkin saya akan sendirian. Tidak merayakannya dengan siapapun. Tapi mungkin itu jadi lebih tidak menyakitkan, daripada saya harus merayakannya dengan orang yang tidak mencintai saya. Rasanya jadi terlalu egois. Terlalu memaksakan.

So, Happy Valentine’s Day, everyone!

Advertisements

Leave a comment

Filed under some thoughts

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s