Umur sudah hampir menginjak kepala tiga. Mulai lebih banyak pertanyaan tentang pernikahan saya terima.

Dari teman-teman yang sudah menikah, dan kemudian merasa bahwa mereka sudah terperangkap, tertipu oleh propaganda indahnya hidup berkomitmen hanya dengan satu orang. Makan sayur asem yang sama setiap hari. Tapi entah mengapa, mereka getol sekali memanas-manasi saya untuk segera menyusul, terjun ke perangkap yang sama. Memang, orang kalau lagi susah, pinginnya sama. Semakin banyak yang ikutan susah, kesusahan itu sendiri akan jadi lebih ringan.

Dari om-om yang sibuk memelihara gundik di setiap pelabuhan yang pernah mereka singgahi, di Seluruh Dunia. Juga dari tante-tante yang sibuk menangis tiap malam dan berusaha terlihat lebih cantik dari gundik-gundik suami mereka yang tersebar di setiap pelabuhan di Seluruh Dunia, di pagi harinya. Gimana sih tante, om.. mbok kalo mau nyuruh orang kawin tu kasihlah contoh yang bener dulu.

Entah kenapa, tapi sepertinya saya mulai menjadi seorang marriage-phobic. More than ever! Buat saya, perkawinan bukan project coba-coba. Kalo gagal sekali, ya coba lagi dan lagi dan lagi. Ah, jadi seperti artis saja. Saya ingin membuat perkawinan saya tetap low profile dan down to earth. Sekali untuk selamanya. Till death do us apart. Tapi sepertinya hal itu hampir tidak mungkin.

Beberapa hari belakangan mulai kembali merajin chating-chating ga penting dengan mantan partner incest. Salah satu orang yang paling berkesan, sekaligus paling ajaib buat saya. Beberapa kali membicarakan tentang lembaga yang seharusnya bonding for lifetime ini. Mungkin lebih tepatnya, saya berguru pada beliau. Bertukar pikiran membicarakan hal sepenting ini dengan cara paling nggak penting. Berbicara tentang apakah seharusnya menikah atas dasar cinta atau logika.

Dan akhirnya, saya sampai pada kesimpulan bahwa menikah, baik dengan dasar logika atau cinta adalah sama tololnya dengan mencoba menjilat titit sendiri. Mari kita bahas.

Pernikahan yang didasari Logika: Ketika logika bisa bicara itu menunjukkan bahwa hati tidak terlalu berperan di sini. Menikah hanya atas nama prokreasi. Beranak cucu dan bertambah banyak. Atau menikah atas nama “Menyenangkan-Hati-Orang-Tua”. Tindakan mulia cenderung tolol yang mungkin akan dirasakan akibatnya nanti setelah usia ke 6 pernikahan. Atau menikah hanya karena, yah mau ngapain lagi? Kerja udah. Mapan udah.. ya njur terus nikah ajalah… Oh tidak, Pakcik. Menikah tidak semudah membalik kolor bapak. (Setidaknya menurut saya. Orang yang belum pernah menikah. Entah akan ataupun tidak.)
Nah, apa kelemahan dari menikah karena logika? Segala sesuatu dipatok dengan logika. Tidak ada perasaan disana. Tidak ada cinta. Jadi segala masalah harus diselesaikan dengan logika. Tapi bahkan logika manusiapun terbatas. Bila kemudian masalah yang tidak lagi bisa dipecahkan dengan logika muncul, lalu apa? Di sinilah diperlukannya Cinta. Cinta bisa menjadi kekuatan yang mendasari segala logika itu. Cinta akan tetap menjadi dasar yang kuat, walaupun logika sudah tidak bisa lagi berjalan. Belum lagi, kalau suatu saat, setelah 5 atau 6 tahun perkawinan, kejenuhan mulai muncul. Kebosanan mulai meraja-lela. Salah satu dari pasangan ini bertemu seseorang yang ternyata bisa memunculkan sparkling2 dan debar2 rasa cinta, lalu apa yang terjadi? Perselingkuhan. Logika, tidak logika, tetep aja sakit.

Pernikahan yang didasari Cinta, tanpa (atau sedikit sekali) Logika : Jelas, kemungkinan tersakiti lebih besar. Makan ati. Kecuali keduanya sama2 cinta, dengan kadar yang tidak jauh berbeda, dan sama2 menjunjung loyalitas. Tapi kalau tidak, makas siap2 bunuh diri, Jendral! Bukan hanya pernikahan dengan logika saja yang memungkinkan salah satu dari pasangan itu selingkuh. Cinta sih cinta… tapi kalau ada yang goyangannya lebih dasyat? Kenapa ditolak. Ingat! Kita hidup di alam nyata. Para oportunis masih berkeliaran di alam ini. Belum lagi, pernikahan karena cinta, tanpa (atau sedikit sekali) logika, itu berarti segala sesuatu di dasari oleh perasaan. Emosi lebih banyak bermain di sana. Idealisme lebih mendominasi. Dan itu berarti juga ada Ego dengan porsi yang sangat besar. Ntar ribut sedikit, bukannya dibicarakan malah kabur lagi? Bukan solusi yang tepat, saudara2. Apalagi, percayalah! Sparkle2 itu bisa hilang. Bahkan dalam waktu yang sangat singkat. Kecuali keduanya sama2 bisa menjaganya tetap stabil. Which is almost imposible.

Saya percaya, dalam sebuah hubungan, tidak ada perasaan saling mencintai yang berbanding sama. Pasti ada yang lebih besar dan lebih kecil. Lebih dalam, lebih cetek. Tapi semua itu bisa di kompromikan dengan takaran yang tepat. Sampai di titik mana tingkat toleransinya. Kalau semuanya masuk dalam titik toleransi masing2, ya ndak masalah. Jalani aja toh? Nah kalau tidak? Yang satu cinta mampus dan makan ati, sementara satunya lagi di atas angin asik2an mengumbar ego.

Pernikahan yang ideal (paling tidak menurut saya) : Adalah pernikahan dengan kombinasi logika dan cinta yang tepat. Cinta yang cukup untuk menjadi dasar kekuatan pribadi masing2 untuk saling menjaga, menghormati, dalam kaya maupun miskin, dalam sehat atau sakit, sampai maut memisahkan. Cinta yang cukup untuk membuat semua pihak saling setia. Juga harus ada logika. Sehingga segala kuputusan dibuat dengan kepala dingin. Tidak terlalu banyak emosi dan ego yang terlibat. Bukankah lebih enak kalau bisa berbicara dan berdikusi dengan pasangan daripada sekedar ribut dan marah2an? Nyapek2in. Pernikahan seperti ini adalah pernikahan yang ideal. Tapi ingat, Jendral! Kita bukan hidup di dunia dengan Idealisme sebagai penguasa. Kita hidup di dunia yang dicengkeram oleh cakar Realita! And reality bites like a stupid blonde bitch! Tidak banyak pasangan yang memiliki kemewahan seperti ini. Jadi kalau kamu salah satu pasangan yang memiliki pernikahan yang ideal seperti ini, bersyukurlah. Bersyukurlah dan doakan agar saya bisa mengikuti jejak kalian. Hahahaha… God does love Sarcasm!

Mungkin hampir tidak mungkin saya memiliki hubungan seperti ini. Mengingat history dari hubungan percintaan saya yang bahkan lebih semrawut dari sinetron Tersanjung yang sampai seri 12 itu! Boleh dibilang saya sudah menyerah mengejar idealisme pernikahan ini. Sudah tidak lagi membayangkan saya akan berjalan di altar mengenakan gaun putih dengan buket bunga Lily di tangan kiri dan tangan kanan saya menggamit lengan Ayah saya. Masa2 penuh mimpi itu sudah lewat, Kamerad! Sekarang saatnya terkurung dalam realita.

Akhirnya saya memutuskan, kalau saya tidak bisa mendapatkan pernikahan ideal seperti yang saya sebutkan di atas, maka lebih baik tidak menikah sama sekali!

Mungkin bahkan itu adalah keputusan paling logic yang bisa saya ambil. Hahahaha…

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s