Aku menolehkan kepalaku ke arah kanan. Melihat ke luar jendela. Sepertinya turun hujan. Ah, derasnya. Entah sudah berapa lama jari-jariku berhenti mengetik. Entah berapa lama otakku tak berhenti bekerja. Bertanya-tanya mengapa hujan yang begitu derasnya tidak juga melarutkan apapun yang sedang kurasakan. Aku tidak mengenal rasa ini. Atau aku hanya tak mau tau? Tidak cukup berani untuk benar-benar menghadapinya. Yah, aku memang pengecut. Pengecut yang terkurung dalam kebodohannya sendiri. Terkungkung, dan hampir mati.

Orang berlalu lalang di sebelah kiriku. Meneriakkan kata-kata yang seharusnya kumengerti. Tetapi mengapa tak kumengerti? Ah, aku hanya tak mau mendengarkan. Maka kumainkan sebuah lagu. Di dalam kepalaku. Sekeras yang diijinkan oleh membran otakku. Lagu tentang sesuatu yang datang. Lagu tentang sesuatu yang pergi. Lagu tentang cinta, dan lagu tentang kehilangan cinta. Lagu tentang kesedihan, patah hati dan kematian.

Ah, Cinta,… Waktu kita tak lama lagi. Akan kita isi dengan apa sisa waktu ini? Begitu banyak yang sudah kita lewati. Begitu banyak yang tidak akan kita lewati. Bersama. Selamanya, selalu akan berakhir, Kasih. Sekeras apapun kita mencegahnya. “Till death do us apart” tidak hanya untuk mereka yang menjalani legalisasi dari apapun yang sedang kita jalani sekarang. Hanya mungkin saat ini bukan kematianlah jurang pemisah kita. Hanya keinginan yang berbeda. Aku hanya ingin seseorang yang menganggap ini lebih dari sebuah kebiasaan. lebih dari sekedar sebuah rutinitas. Dan kau? Apa yang kau inginkan, Sayang? Rasanya aku tak pernah bertanya itu padamu. Jadi, katakanlah. Apa yang kau inginkan? Aku tak pernah tau. Yang aku tahu, hanyalah apa yang tak kau inginkan. Aku.

Waktu kita tak banyak, Dear. Jadi mari kita nikmati. Mari kita lewati dengan sebanyak mungkin hal yang ingin kita lewati. Sebanyak yang diijinkan sang waktu.

Perpisahan tak pernah indah. Tapi kita adalah orang-orang hebat, Sayang. Mari kita buat perbedaan. Perpisahan yang indah. Sakit, tapi indah. Seperti terjun bebas dari puncak air terjun. Seperti terbang dari lantai 33 sebuah gedung. Seperti menembak kepalamu sendiri. Kita adalah seniman. Kita bisa membuat semuanya jadi indah.

Ah, terlalu banyak kata “Kita” untuk sesuatu yang tidak berarti “Kita” sama sekali. Kalau Kita berarti team solid yang diinginkan semua orang? Lalu mengapa tak pernah ada “Kita” tercipta? Pertanyaan… Pertanyaan… Pertanyaan…

Aku harus pulang, Manis. Aku ingin pulang. Pulang dan melanjutkan hidupku. Sama seperti kau harus melanjutkan hidupmu. Tanpaku. Tak pernah denganku.

Tak akan…

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s