Astaga!! Aku benar-benar tenang!

Beberapa waktu belakangan ini aku menghindari mendengarkan lagu-lagu yang biasa kudengarkan ketika menuliskan semua depresiku. Lagu-lagu yang biasa kudengarkan ketika memikirkan sumber depresiku. Memikirkan dia. Aku terlalu takut bahwa dengan mendengar semua lagu itu, akan membawaku kembali ke pusat kesedihan, kesakitan dan penyangkalanku.

Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang kumiliki, aku mulai menyusun playlist. Semua lagu-lagu yang dulu bisa membuatku menangis, membuatku menikmati setiap perih, membuatku merasa menjadi masochist, kecanduan dengan segala kesakitan itu, kumasukan ke daftar lagu di winamp player.

Dimulai dengan The Sundays – Thinking About you.
Aku menyalakan rokok, mematikan lampu kamarku. Segera lagu itu membawaku kembali ke ingatan pada hal yang terakhir kulakukan ketika mendengar lagu ini. Aku tersenyum. Bukan menangis seperti saat terakhir kali aku mendengarnya.

Lagu kedua, Bread – Aubrey.
Masih menghisap rokok, menyesap sedikit air es. Teringat aku juga menangis ketika mendengar lagu ini beberapa waktu yang lalu. Aku memejamkan mata menikmati petikan gitar. Dan aku tersenyum.

The Hardest Day – The Corrs feat Alejandro Sanz.
Seharusnya ini adalah lagu terberat yang kudengarkan. Teringat ketika aku harus pergi. Meninggalkan dia. Mengucapkan perpisahan terakhir. Melihat untuk terakhir kalinya. Menyentuh sekali lagi, sebelum akhirnya kehilangan semua itu. Mengingat betapa beratnya itu semua kurasa dulu. Ya, semua rasa itu masih begitu akrab denganku. Begitu dekat. Aku masih bisa mengingat setiap sayatannya. Tapi kali ini, aku tersenyum. Sedikit tertawa kecil. Seolah semua itu terjadi bertahun-tahun yang lalu. Seolah semua itu adalah kenangan indah, hanya satu episode dari hidupku.

Aku masih tersenyum. Menikmati setiap lagu yang belum sampai dua minggu yang lalu bisa membuatku merasa seperti teriris menjadi bagian-bagian kecil. Lagu-lagu yang menemaniku ketika semua partikel dalam tubuhku berontak. Lagu-lagu yang menemani hatiku berperang melawan pikiranku. Ingin tinggal, atau pergi! Ketika tetap berada di sana sama beratnya dengan melangkahkan kaki dan menjauh.

Ya, aku memang belum pergi. Belum mau, atau belum bisa. Entahlah. Tapi aku belum pergi. Hanya saja sekarang aku merasa lebih tenang. Jauh dari segala kesakitan. Kesakitan yang selama ini takut kurasakan lagi, sehingga enam tahun belakangan ini aku membangun tembok yang sangat tinggi dan tebal, hanya agar aku terlindungi. Terlindungi dari orang lain, dari diriku sendiri. Ternyata tembok tebal itu bisa ditembus oleh orang yang paling tak kuduga mampu.

U2 – Electrical Storm
Aku masih ingat waktu itu hari jumat dengan tamparan telak yang kudapat. Lagu ini menemaniku menenggak sisa Chivas yang tak cukup membuatku tipsy sekalipun. Berjalan mengitari kamarku yang tidak terlalu besar. Terus berjalan dengan langkah cepat selama satu jam. Menemaniku menyapu, mengelap, menyikat kamar mandi, mengganti sprei, apapun yang bisa menghabiskan tenaga, membuang semua energi yang meletup-letup dan membludak, sebelum akhirnya menelpon dia, dan menelponnya sekali lagi. Meminta pertolongan, padanya, pada siapapun untuk menghentikan rasa sakit itu. Aku bahkan mulai percaya adanya Tuhan. Maka aku memintaNya untuk menghentikan rasa sakit itu. Aku bahkan berteriak memanggil ibuku di sela-sela isakan, berharap ibuku bisa menghentikannya. Mendengar kembali lagu ini, aku tersenyum. Menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya. Mungkin luka yang ini terlalu dalam. Aku masih bisa merasa sedikit sakitnya. Tapi setidaknya aku tidak lagi menangis. Aku tersenyum.

Mungkin memang senyumlah yang akhirnya bisa menghapus semuanya. Semua harapanku. Karena aku sudah berhenti mengharapkan apapun. Menghapus semua penyangkalanku, karena aku sudah berhenti menyangkal. Berhenti berusaha. Berhenti mengejar. Berhenti semuanya. Dan, ya, aku tenang.

Pada akhirnya, mungkin memang inilah cara terbaik untuk pergi. Atau tidak pergi. Hanya menerima keadaan. Tidak mengharap apapun. Pergi dengan caraku sendiri. Pergi, tanpa memaksa untuk pergi. Pergi, tanpa benar-benar pergi. Hanya mematikan semua indera. Mematikan semua perasaan. Membangun tembok yang lebih tinggi, lebih tebal, berharap enam tahun lagi tidak akan ada yang bisa menembusnya.

Pergi, dengan caraku sendiri.

“Biarkan menjadi terbiasa,” katanya.

Maka kubiarkan semuanya jadi terbiasa. Pergi, tanpa benar-benar pergi. Menelan semua yang disodorkan oleh keadaan ke hadapanku. Menjadi terbiasa dan menerima bahwa aku hanyalah aku. Aku adalah orang yang bisa memberikan perasaan nyaman. Tidak lebih.

Jadi, ya! Aku tenang. Aku akan terbiasa. Dan aku baik-baik saja.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s