Aku merasa seperti tenggelam dalam sebuah euforia. Ini seperti habis menghisap berlinting-linting ganja. Seperti percikan-percikan post-coital. Kegembiraan yang mencurigakan. Kebahagiaan yang membuatmu waspada. Kesenangan semu yang menipu. Aku tak bisa menikmatinya.

Ada suara yang terus berbisik di telingaku, “live, and let it die! Live, and let it die!” Terus dan terus, berulang-ulang. Apa yang harus kubiarkan mati? Mengapa harus kubiarkan mati? Mengapa aku harus tetap hidup? Mengapa aku terus hidup sementara apapun itu harus mati?

Aku merasa jadi seorang penderita schizophrenia. Schizophrenia yang klaustrofobi, karena ruangan ini mendadak seperti menyempit. Aku sesak nafas. Mengapa harus mati? Ini tolol! Aku tak mau! Tapi aku harus!

Setan!!!

Menurut statistik, bunuh diri paling banyak terjadi di antara jam happy hour. Benarkah? Aku melirik jam di pergelangan tangan kananku. Jam delapan lewat sepuluh menit. Waktu yang tepat.

Jadi aku membiarkannya mati…
Biar saja apapun itu mati.
Agar aku hidup!
Karena aku ingin hidup normal…

Benar saja. Sore ini, beberapa menit yang lalu, sebuah tamparan telak kuterima.
BANGSAT!!!
Maafkan aku memaki…
Tapi jari-jariku bergrerak sendiri. Gemetar tak mau berhetnti, kesulitan menulsikan apapun.

AKU PULANG!

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s