Aku duduk di pembatas Jalan Dago. Tengah malam. Tangan kananku menjepit rokok yang baru saja kubakar. Entah batang keberapa. Tangan kiriku mencekik leher botol Chivas yang dibungkus dengan plastik berwarna hitam. Di depanku, papan nama Jl. Dayang Sumbi. Tidak banyak mobil yang lewat. Kalaupun ada, mereka hanya sedikit melambat, melihat dengan cara paling aneh ke arahku, kemudian kembali melesat menuju lampu merah simpang dago.

Lagu apa yang sedang menemaniku? Lagu apa yang sedang kudengarkan? Tidak ada. Tidak ada lagu. Lagu apapun membuatku merasakan semuanya seratus kali lebih parah. Terlalu sakit, terlalu sedih. Aku takut mendengarkan lagu. Jadi kutinggalkan Mp3 player pinjamanku di kamar hotel.

Jadi di sinilah aku. Duduk di tengah jalan Dago, berharap udara bandung cukup dingin untuk dapat membekukan apapun yang kurasakan. Tapi bahkan angin Bandung pun mengecewakanku.

Apa yang kupikirkan? Tidak ada yang kupikirkan. Terlalu banyak aliran alkohol di dalam darahku. Mengapa aku tidak mabuk? Ini terlalu aneh. Sepertinya semua inderaku jadi seratus kali lebih kebal. Kesadaranku tak mau menghilang. Aku menghembuskan asap rokok. Tercium bau Chivas di asap itu. Aku pasti terlihat seperti Kuntilanak mabuk. Walaupun aku tidak mabuk.

Tiba-tiba seorang lelaki menghempaskan pantatnya di sebelahku. Aku bahkan tak menoleh. Aku hanya melirik. Terlihat figurnya sekilas. Tinggi, mungkin. Dengan kulit putih, mungkin. Rambut gimbalnya yang panjang, diikat menjadi satu ke belakang, mungkin. Lelaki itu tak mengeluarkan sepatah katapun. Hanya duduk. Bahu kirinya berjarak hanya tiga senti dari bahu kananku. Aku kembali memandang ke arah papan nama Jl. Dayang Sumbi. Meneguk Chivasku dan membiarkan rokokku terbakar. Tiba-tiba tangan kiri lelaki itu terulur, meraih rokok yang sedang kujepit dengan jari telunjuk dan tengah. Kemudian menghisapnya dalam-dalam. Menghembuskan asapnya, dan mengembalikan rokok itu padaku. Aku menerimanya dan menghisapnya. Segera asap berbau chivasku bercampur dengan asapnya. Kami terus berbagi sebatang rokok tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bahkan tanpa saling melihat. Perpindahan rokok dari tanganku ke tangannya, dari mulutku ke mulutnya, hanya itulah yang menjadi komunikasi kami.

Setelah bara di rokok itu mulai habis, lelaki itu membuang dan menginjaknya. Kemudian dengan tangan kirinya, ia mengambil botol Chivas dari tanganku dan meneguk isinya. Dan kami mengulangi ritual yang sama. Kali ini dengan botol Chivas yang berpindah tangan. Masih tanpa kata. Setelah tegukan ketiga, aku meraih saku belakang celana jeansku, mengeluarkan kotak rokok, mengambil sebatang dan menyelipkannya di bibirku. Lelaki itu menyodorkan pemantik dengan api menyala untuk membakar rokokku. Tanpa saling memandang. Tanpa kata.

Ritual yang sama. Komunikasi berupa perpindahan batang rokok dan botol Chivas. Tiba-tiba tangan kirinya terangkat, menyelipkan rambutku ke telinga kananku.

“Siapa namamu?” tanyanya. Memandangku setelah sekian lama.
“Eve,” jawabku tanpa menoleh. Masih memandang papan nama Jl. Dayang Sumbi.
“Hawa,” gumamnya sambil sekilas membelai rambutku.

Kami kembali ke ritual itu. Meneguk sedikit demi sedikit Chivasku. Membakar berbatang-batang rokok dan berbagi. Kepalaku mulai terasa ringan. Pandanganku semakin kabur. Papan nama Jl. Dayang Sumbi itu ada dua. Otakku semakin tak mau bekerja sama. Semakin tak bisa berpikir. Aku tak mau memikirkan apapun.

“Kemana jaketmu?” tanya lelaki itu, mengangsurkan batang rokok padaku.
Aku diam. Merasakan mataku semakin berat. Semakin melayang. Kepalaku mulai miring ke kanan. Mencoba mengamati papan nama Jl. Dayang Sumbi dari kemiringan ini.
“Hawa…,” lelaki itu menyebut namaku. Bukan memanggilku. Lirih. Namaku kah?
Aku masih diam. Membiarkan rokok terbakar. Tangan kirinya meraih telinga kiriku dan menangkup di sana. Kemudian kurasakan bibirnya menyentuh puncak kepalaku. Aku tetap diam dengan kepala masih miring ke kanan. Tak lagi mengamati papan nama Jl. Dayang Sumbi. Hanya memandang kosong.

“Kau kedinginan?” tanyanya lagi.
Aku menolehkan kepalaku. Untuk pertama kali, benar-benar memandangnya. Memandang wajahnya yang hanya berjarak dua puluh senti dari wajahku. Rokokku terjatuh. Berpikir pasti seperti inilah wajah malaikat. Mata berwarna coklat yang tajam dan dalam, hidung yang runcing, tulang pipi tinggi yang sempurna, bibir tanpa senyum, tulang rahang yang kokoh, kulit putih yang bersih. Aku memiringkan kepalaku, mencoba mencari kekurangan di wajahnya. Tidak ada. Lelaki ini adalah malaikat. Aku meyakinkan diriku. Atau alkohol yang meyakinkanku. Entahlah…

Setengah tak sadar aku mengangkat tanganku. Dengan jari telunjuk kutelusuri lekuk wajahnya. Dahinya, hidungnya, bibirnya, dagunya terus sampai ke dadanya dan berhenti tepat ketika tangan kirinya menangkap tanganku, menggenggam dan menempelkan ke dadanya, tempat jantungnya berada.

“Apa yang kau lakukan di sini, Hawa?” tanyanya lembut. Memandang lekat ke dalam mataku.
“Mencari…,” jawabku. Merasa tersedot oleh pandangannya.
“Apa yang kau cari?”
“Sesuatu…”
Lelaki itu tersenyum seolah mengerti arti jawabanku itu.
“Apa yang kau rasakan?”
“Terperangkap. Terperangkap oleh perasaanku sendiri.”
Lelaki itu tetap memandangiku. Seolah apa yang kukatakan begitu berarti untuknya.
“Aku ingin keluar dari perangkap ini. Aku takut…,” sambungku.
Tangan kanannya, meletakkan botol Chivas di dekat kakinya, kemudian menyentuh pipiku. Aku menggigil. Sentuhan itu membuatku bergetar.
“Kau kedinginan,” katanya salah mengerti arti getar tubuhku dan melepaskan semua sentuhannya padaku.
Aku langsung merasa kosong. Jangan lepaskan….

Lelaki itu melepas jaket yang dikenakannya, kemudian menyampirkannya di bahuku. Aku bisa melihat lengannya. Kulit putihnya yang tampak begitu kontras dengan kaus hitamnya. Setiap urat yang menonjol, tulang dan persendian di bawah kulitnya. Seakan bisa membaca pikiranku, perlahan lengan kokoh itu melingkari tubuhku dan menarikku lembut ke arahnya. Pandanganku berputar. Aku meletakkan kepalaku di dadanya, merasa aman, nyaman dalam pelukannya. Aku bisa merasakan dagunya menempel di ujung kepalaku. Mencium bau tubuhnya yang seperti bau rumput yang basah oleh embun. Seperti padang rumput. Mencium aroma nafasnya yang seperti angin setelah hujan, bercampur asap rokok dan alkohol. Aku merasa nyaman. Kenyamanan yang menakutkan.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku lirih. Berusaha menghirup banyak-banyak aroma tubuhnya.
“Untuk memberi apa yang kau inginkan,” jawabnya mengetatkan pelukkan.
“Aku ingin dicintai…”
“Maka aku akan mencintaimu malam ini.”
Aku tersenyum samar. Tiba-tiba merasa lelah. Aku ingin tidur.

Entah berapa lama kami tetap dalam posisi yang sama. Aku tidak tidur. Hanya beristirahat. Mengistirahatkan mataku, kepalaku, pikiranku. Berhenti bergerak, berhenti mencari, berhenti mengharap apapun. Membiarkan bibirnya mencium ujung kepalaku. Menghirup aroma shampo pada rambutku. Merasakan setiap belaian tangannya di punggungku, rambutku. Merasakan setiap otot yang menegang saat dia bergerak. Membiarkan diriku tenggelam. Menerima apapun. Menyerah.

“Ayo, Hawa, aku akan mengantarmu,” bisiknya menempelkan bibir di telingaku.
Ia membantuku berdiri. Memapahku. Memeluk pinggangku.
“Jangan tinggalkan botolnya. Aku berjanji membawa botol beserta sisa isinya pulang, untuk seseorang,” aku sempat berkata sebelum kami menyeberangi sisi jalan yang dari tadi kupunggungi. Menuju sedan hitam yang sedang terparkir di depan pintu pagar sebuah rumah yang sepertinya tak berpenghuni. Ia membukakan pintu depan untukku. Mendudukkanku di jok yang empuk dan terasa dingin. Mengapa sekarang aku baru bisa merasakan dingin? Menyelimutiku dengan jaketnya, kemudian menutup pintu. Aku menyandarkan kepalaku ke jendela mobil. Menghirup parfum mobil yang segar, kemudian tertidur.

Aku tersadar di kamar hotelku. Gelap. Hanya ada sedikit cahaya dari celah pintu kamar mandi. Aku masih mengenakan pakaianku. Lengkap. Kecuali sepatu dan kaus kaki. Aku berusaha melongokkan kepala mencari dimana sepatuku. Aku melihatnya di bawah meja rias, tergeletak rapi dengan kaus kaki yang tergulung di dalamnya. Bagaimana aku bisa sampai di sini? Ah, ya! Lelaki itu. Mungkin dia melihat gantungan kunci kamar hotelku. Mungkin dia juga yang melepaskan sepatu dan menggulung kaus kakiku.

Aku baru menyadari ada sebuah tangan kokoh memeluk pinggangku. Aku menyentuhnya lembut. Dan tangan itu menarikku. Lelaki itu, berbaring tengkurap di sebelahku. Ia menarikku lebih mendekat padanya. Aku berusaha menajamkan pandanganku. Hanya sisi wajah sebelah kirinya yang terlihat. Tapi matanya terbuka, memandangku lekat. Aku menyurukkan kepalaku di bawah dagunya. Merasa hangat. Tangannya berpindah dari pinggang ke pipiku. Membelainya lembut.

“Siapa yang melakukan ini padamu, Hawa?”
Suaranya membuat badanku berguncang. Menahan… sesuatu. Kepalaku masih berputar. Pandanganku masih mendua. Semuanya terdengar seperti berdengung. Tidak ada yang jernih.
“Setan,” jawabku.
“Maka aku akan jadi malaikatmu malam ini.”
Aku merasakan bibirnya menyapu rambutku. Mencium mataku, pipiku, leherku. Nafasku mulai berat.
“Siapa namamu?” aku bertanya di sela-sela hembusan nafas.
“Kau pilihlah nama untukku. Mikhael, Gabriele atau Lucifer?” sahutnya tanpa menghentikan ciumannya.
Aku meletakkan tanganku di kedua sisi wajahnya. Merasakan gumpalan-gumpalan rambutnya berdesir melewati sela-sela jariku.
“Entahlah. Aku tak pernah melihat mereka semua. Tapi menurutku wajahmu adalah wajah Lucifer, sang pemusik, yang tertampan. Sedangkan lenganmu, begitu kokoh. Begitu kuat seperti milik Mikhael dengan kemampuan berperangnya. Tapi kupikir kau ini adalah Gabriele karena kau begitu lembut. Gabriele pastilah malaikat yang lembut karena dia harus membawa kabar yang paling baik sampai yang paling buruk pada orang-orang,” jawabku sambil menggosok-gosokkan ujung hidungku pada lehernya.
Malaikat itu menghentikan ciumannya. Memandang mataku lekat. Seolah ingin menarikku, tenggelam, dan menyatu dengannya.
“Lucifer bukan lagi malaikat, Hawa. Dialah yang membuatmu keluar dari Edenmu. Keluar dari kebahagiaanmu,” katanya serius. “Dialah Setan,” lanjutnya lagi.
“Kalau begitu kau bukan Lucifer,” aku menyahut, melingkarkan tanganku di dadanya. Memeluknya, “maka bawa aku kembali masuk ke Edenku.”

Kemudian kami bercinta. Bercinta seperti ingin saling memusnahkan. Menelusuri setiap lekuk yang ada pada tubuh kami. Menjelajahinya seperti Kapten Columbus. Bercinta seperti berusaha melewati batas kulit dan daging. Saling memeluk seakan ingin tenggelam. Seperti orang kelaparan yang menemukan setumpuk kue dadar. Dan sepanjang waktu itu ia terus memandangku. Memandangku seolah aku mahluk paling indah yang pernah dilihatnya. Memandangku seolah akulah satu-satunya hal yang diinginkannya di dunia. Dan aku merasa cantik. Cantik seperti seorang dewi dan sekaligus seperti pelacur. Sampai akhirnya kami meledak bersamaan. “Hawa, aku mencintaimu, malam ini!” serunya dengan suara parau seiring dengan puncak yang berhasil digapainya. Kemudian kami jatuh tertidur, saling memeluk.

Aku bangun saat sinar matahari menerobos celah-celah tirai kamar hotel. Secara spontan aku meraih ke sebelah kiriku. Mencari-cari, dan kecewa karena tidak menemukannya. Malaikat itu sudah pergi. Aku memandang ke sekeliling kamar. Berusaha mencari sisa-sisa dari apa yang terjadi semalam. Tak ada apa-apa kecuali hangover yang menderaku dahsyat.

Malaikat itu, hanya mencintaiku semalam. Semalam sudah cukup.
Siapa namanya? Mikhael… Gabriele… atau Lucifer….?

[on the chart : Marlboro Lights, Aqua + es batu, merasa jadi seorang masochist, es teh manis, beberapa teguk Chivas sisa kemarin. Tanpa lagu. Lagu membuat semuanya jadi terasa 100 kali lipat lebih buruk]

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s