108.000 Detik

Pelahan aku membuka mataku. Mengamati sekelilingku. Mengerjap-erjapkan mata sebentar berusaha menyesuaikan pandanganku pada ruangan yang masih gelap ini. Di mana? Jam berapa? Aku memicingkan mata, melihat ke arah jam dinding Happy Holly Kids di atas meja komputerku. Happy Holly kids! Hah! Aku sempat tersenyum sinis. I’m no more a kid! Apa lagi holly. Dan jelas aku tidak merasa happy sama sekali. Mungkin sudah waktunya aku mengganti jam dinding itu dengan jam dinding Lucky Luke yang pernah kulihat di Plaza Senayan. Jam 1 siang. Gila! Berapa jam aku tidur?

Aku mencoba bangun dari tempat tidur. Begitu berhasil menarik badanku sampai ke posisi duduk, aku langsung menyesalinya. Serangan migrain parah langsung menerpa kepalaku. Shit! Seharusnya aku tetap berbaring saja. Tapi sudah terlanjur. Jadi aku memaksa diriku untuk bangkit. Terhuyung-huyung menuju ke saklar lampu. Kamar ini terlalu gelap. Selalu gelap. Walaupun ada jendela sebesar dosa, tapi dengan tirai yang begitu tebal, sinar matahari sepertinya tidak mampu menembusnya. Aku ingat seseorang berkata kalau kamar ini seperti blackhole. Sekali masuk, orang akan lupa dengan waktu, cahaya atau apapun yang biasanya terjadi di luar sana. Tempat retreat yang bagus kurasa. Mengalahkan segala macam Domus yang bertebaran di daerah puncak sana, dengan kegiatan-kegiatan yang bertolak belakang yang bisa dilakukan.

Begitu lampu kunyalakan, mataku langsung menyipit. Kaget dengan keadaan yang tiba-tiba terang benderang. Perlu beberapa detik untuk menyesuaikannya kembali. Sementara itu kepala sebelah kiriku masih berdentum-dentum menuntut dua butir paramex segera di sarangkan ke tenggorokanku. Tapi tidak. Perutku belum diisi apapun sejak jam empat sore kemarin. Jadi kubiarkan saja kepalaku berdentum-dentum.

Mengisi mug-ku dengan air hangat. Biasanya aku hanya minum aqua dan es batu. Tapi ada orang bilang bahwa air hangat saat bangun tidur bagus untuk… entahlah… pencernaan or crap like that. Aku tidak terlalu perduli soal kesehatan itu. Hanya saja memang sedang tidak ada es batu di sini. Dan aku malas keluar untuk membelinya. Meneguknya sedikit demi sedikit sambil kunyalakan komputerku. Tak lama Radiohead mulai meneriakkan True Love Waits-nya. Aku menyalakan rokok, kemudian berdendang bersama Thom Yorke.

I’m not living
I’m just killing time
Your tiny hands
Your crazy kitten smile

Just don’t leave
Don’t leave

And true love waits
In haunted attics
And true love lives
On lollipops and crisps

Just don’t leave
Don’t leave

Menghembuskan asap dari sela-sela bibirku. Aku merasa ruangan ini mulai berputar. Aku memejamkan mata berusaha menghentikannya. Menyandarkan kepalaku ke dinding. Tiba-tiba aku didera rasa kesepian yang luar biasa. Rasanya begitu kosong. Sendiri. Kosong. Ah, ada apa denganku? Masih dengan mata terpejam, aku mulai mengingat apa saja yang kulakukan kemarin.

Ah, ya. Tiga puluh jam yang menyenangkan. Denganmu. Mewujudkan semua yang pernah kubayangkan. Berbicara dan terus berbicara, menikmati setiap ekspresimu yang berubah-ubah sesuai dengan setiap cerita yang keluar dari mulutmu. Menikmati sinar matamu yang kadang redup, berbinar-binar, bersemangat dan terkadang bahkan terlihat seperti terluka. Memandangi bibirmu yang terus bergerak seiring dengan setiap kata yang mengalir keluar darinya. Bibirmu yang selalu membentuk ekspresi menarik. Tersenyum, cemberut, tertawa, menyeringai, semuanya! Bibirmu yang selalu tampak kering. Aku menahan keinginanku yang begitu kuat untuk menyentuhnya. Berusaha untuk tidak membayangkan bagaimana rasanya bila bibir itu menempel di bibirku. Pasti manis. Bagaimana teksturnya akan terasa di lidahku yang menyapunya lembut. Menikmati suaramu saat tertawa. Ya. Tawa falsetto-mu yang menyenangkan itu.

Duduk di boncengan dengan tanganku memelukmu dari belakang. Berharap kau tidak sedang memakai helm mahal sialanmu itu agar aku bisa membisikkan bermacam-macam kata yang ada di otakku. Berharap bisa menghembuskan nafasku di lehermu, hingga kau benar-benar menyadari bahwa aku ada. AKU ADA DI SINI! AKU!!! YANG SELALU ADA DI SINI! Berharap kau tidak mengenakan jaket coklat airforce mu itu. Agar tanganku bisa menyusup masuk dari bawah t-shirt hijaumu. Meraba setiap bagian dari perutmu. Perut yang selalu kau keluhkan karena mulai ada tonjolan-tonjolan lemak di kiri-kanannya. Perut yang sama yang membuatku tergila-gila. Ingin selalu menyentuhnya. Memainkan jariku membentuk lingkaran-lingkaran kecil di sana. Menyapunya dengan lidahku. Perut tempat aku meninggalkan dua tanda merah kecil. Bukan seperti cap hak milik. Karena aku sama sekali tidak punya hak untuk memilikinya.

Berada di sebelahmu dalam ruangan gelap sambil menonton film apapun yang sedang diputar, tanpa benar-benar mengerti ceritanya karena aroma parfummu yang menggoda itu terus menerus menggangguku. Aroma yang membuatku ingin menjadi seorang Amelia Earhart, terbang ke awang-awang. Atau hanya hilang melebur dengan udara. Aku tak peduli. Memaksaku kembali ke satu adegan yang selalu terputar di dalam kepalaku. Kau tahu kepala tempat tidurku? Ya, kau duduk bersandar di sana dengan aku di pangkuanmu. Berhadap-hadapan. Kedua tanganmu di punggungku mengusapnya lembut, kedua tanganku memegang belakang kepalamu memainkan rambutmu yang halus seperti rambut bayi. Saling berpandangan. Perlahan wajah kita saling mendekat, dan di sanalah aku melumat bibirmu dengan lembut. Lembut dan rakus, karena begitu lama menginginkannya. Sementara bibirmu menjelajahi leherku dan terus turun ke bawah, ke bahuku, dan terus sampai ke tengah dadaku. Sementara aku mendongak berusaha mengatur setiap desah nafasku. Kemudian mendekatkan bibirku ke telingamu dan membisikkan kata-kata itu. Those three magic words. Tanpa perlu merasa takut akan pahitnya penolakan. Dan kita akan bercinta dengan begitu lembut dan panas. Sama seperti yang selalu kita lakukan. Tapi kali ini, di dalam kepalaku, kita bercinta. Bukan sekedar berhubungan sex. Aku hanya berharap kau tidak mendengar degup jantungku sepanjang film itu. Seandainya film yang kita tonton adalah film dengan banyak penggalan kepala dan darah berceceran. Maka aku akan punya alasan untuk menyurukkan kepalaku ke bahumu. Berpura-pura ketakutan karena melihat darah. Walaupun aku memang akan jadi sangat ketakutan. Tapi setidaknya dengan ketakutan itu aku bisa menggenggam tanganmu.

Memainkan permainan favoritku, berharap kau mengalahkanku, karena memang seharusnya seorang lelaki bisa mengalahkan perempuan sepertiku dalam permainan itu. Berkali-kali melirik, mencuri pandang ke arahmu yang sedang sibuk menghindari mobil-mobil virtual. Sial! Memikirkannya saja bisa membuatku berdebar-debar. Seperti remaja perempuan yang baru mengenal puber. Bermain adu panco ayam dengan score 4:1. 4 untukku tentunya. Melepaskan kekanak-kanakanku denganmu, rasanya begitu indah. Menyenangkan. Aku merasa bisa menjadi siapapun saat denganmu. Aku bisa jadi apa saja. Aku bisa menjadi orang paling tolol ataupun orang paling cerdas di dunia. Aku bisa jadi menawan sekaligus kikuk. Aku bisa merasa sedih sekaligus bahagia. Aku bisa menangis dan tertawa secara bersamaan. Aku menyukai diriku saat denganmu. Membayangkan segala hal gila yang ingin kulakukan bersamamu. Mendatangi tempat-tempat baru bersamamu. Bercinta di bawah langit dengan bintang yang bertaburan, ataupun langit dengan awan dan kabut polusi yang menggantung seperti wabah penyakit. Aku tak peduli! Terkikik-kikik geli, bergandengan tangan sambil berlari berjingkat-jingkat memasuki toilet pria di Plaza Indonesia lewat pukul dua belas malam. Seperti dua orang anak kecil yang mencoba mencuri kue coklat yang baru dipanggang.

Aku ingin membagi tempat rahasiaku denganmu. HANYA denganmu. Duduk di atas rumput yang basah, entah karena bekas hujan ataukah karena embun yang tercipta dari hawa dingin. Memandang ke kejauhan, ke hamparan ribuan permata berwarna-warni. Tangan kiriku menjepit rokok, tangan kananmu memegang jagung bakar, sedangkan kedua tangan kita yang lain terjalin erat. Aku ingin melakukan banyak hal gila denganmu. Liar mungkin. Seperti mengecat kukumu. Atau simply memaksamu memakai celana dalamku Teddy Bearku. Aku ingin melakukan banyak hal ‘pertama-kali’ denganmu. Seperti berkendara menyusuri kelak-kelok jalan mendaki sambil membuka jendela mobil lebar-lebar, mengeluarkan separuh badan sambil berteriak menyanyikan Only Hope-nya Switchfoot, “so I lay my head back down… And I lift my hands and pray… To be only yours, I pray… To be only yours… I know now you’re my only hope…”. Berenang telanjang berdua di danau yang indah, di bawah bulan purnama. Ya, tentu kau tak bisa berenang. Kalau begitu, aku tak keberatan untuk sedikit mengubah khayalanku., pantai yang sepi dan indah di bawah bulan purnama juga tak apa. Duduk berdua di tepi pantai, tanpa berbicara, hanya tangan kita saling menggenggam. Memang tidak sespektakuler berenang telanjang di danau. Tapi aku juga tak pernah duduk di pantai berdua dengan lelaki manapun. Jadi ini tetap akan jadi hal ‘pertama-kali’ untukku. Karena hanya kau seorang yang tidak mengangkat alis dan melempar pandangan ‘Tuhan-Tolong-Ada-Orang-Gila-Mau-Membunuhku’ setiap aku menceritakan semua hal yang paling gila padamu. Hal-hal yang tak pernah kuceritakan pada orang terdekatku sekalipun. Kau begitu mengerti. Atau kau hanyalah seorang aktor yang sangat hebat.

Aku berkata padamu kemarin, “aku jadi berpikir bahwa ternyata kau tidak sebaik itu.” Itu bohong! Kau sebaik itu! Bahkan lebih. Aku hanya berharap kau tidak sebaik itu agar aku bisa membencimu. Membencimu dan melupakanmu! Seandainya kau tidak sebaik itu… Dan seandainya aku bisa membenci dan melupakanmu… Aku ingin punya kemampuan untuk pergi. Seandainya aku sekuat itu.

Aku juga berkata, “entah kenapa, aku merasa tidak begitu dekat denganmu seperti seharusnya.” Itu juga bohong! Aku merasa begitu dekat denganmu. Membuatku merasa nyaman. Terlalu nyaman. Itu menakutkanku. Aku membiarkan dinding-dinding pelindungku terbuka terlalu lebar. Sampai tanpa sadar semua ini sudah menyerangku, menderaku, merajamku dengan bertubi-tubi. Serangan di saat yang paling tak kuduga. Dan itu melumpuhkanku.

Entahlah… mungkin aku hanya ingin menyakitimu. Agar kau mau pergi dariku.

Delapan jam yang lalu. Aku harus merelakan tiga puluh jam yang sempurna itu berakhir. Aku masih ingat yang kuucapkan sambil mengamatimu membereskan semua barang-barangmu, karena kau memang harus pulang sepagi ini. “Ah, ternyata aku bisa tidur lebih nyenyak dengan komputer dimatikan.” “Nggak, tidurmu lebih nyenyak karena ada aku,” jawabmu mengerling, menggodaku. Aku hanya tersenyum. Diam-diam mengiyakan dalam hati. Mengingat bagaimana menggenggam jari kelingkingmu ternyata lebih mujarab untuk membawaku ke alam mimpi dari pada dua tablet valium yang biasanya harus kukonsumsi sebelum tidur. Walaupun kadang aku harus tersentak kaget karena tanganmu–yang seharusnya disekolahkan lebih tinggi itu–selalu berusaha masuk ke dalam t-shirt tidur yang kukenakan, mencari-cari benda kesukaanmu untuk kemudian menangkup dan diam di sana. Tapi itu tidak pernah membuatku terganggu. Biasanya aku hanya tersenyum maklum, menangkupkan tanganku di atas tanganmu dan kembali tertidur.

05:20 aku mengantarmu keluar. Melihatmu memanaskan mesin motor. Menahan keinginan untuk menyentuhmu. Keinginan untuk melingkarkan tanganku di dadamu sambil menghirup dalam-dalam aroma parfum sialanmu yang aku yakin sudah menempel di bantal, guling dan selimutku. Sisa-sisa dirimu yang akan kunikmati nanti, saat aku melanjutkan tidurku. Sendiri. “Aku pulang ya,” katamu sambil memegang lengan kiriku. Membelainya sedikit. Dan aku merasa seperti menenggak beberapa strip pil koplo. Melayang dan bodoh. Hanya bisa mengangguk sambil berkata, “hati-hati ya.” Padahal ada begitu banyak kata-kata di dalam kepalaku yang ingin kuucapkan. Begitu banyaknya sampai aku sendiri tak tahu kata-kata apakah itu.

Ah, sepertinya itu hanya tiga puluh jam dari alam mimpi. Tidak benar-benar nyata. Dan kalau itu semua benar mimpi, aku tak mau bangun! Tapi itu nyata! Dan selama tiga puluh jam itu aku merasa bahagia. Lalu kenapa kini aku bangun dalam keadaan begitu kosong dan kesepian. Kehilangan apa yang tak pernah kumiliki. Tidak yakin bahwa semua itu akan kurasakan lagi. Aku tak mau bangun! Biarkan aku terus tertidur!

Ah, hope I’ll never wake
when I’m thinking about you.
So that you know,
I never want to wake
cause now I’m thinking about you.

When you’re searching your soul,
when you’re searching for pleasure,
how often, pain is all you find.
But when you’re coasting along
and nobody’s trying too hard,
you can turn around and like where you are.

Yeah, and I hope I never wake
when I’m thinking about you.
And I close my eyes, dear,
now I’ll never, never wake,
why should I stop thinking about you?

Kosong… kosong… Semuanya kosong. Ah, rasanya begitu ingin aku berteriak berharap bisa menghentikan gejolak aneh di perutku. Ini lebih parah dari hangover karena menenggak berbotol-botol smirnoff. Mengapa…? Menggapa…? Pertanyaan itu terus menerus berputar di kepalaku.

23:20 – 23:20 – 05:20.
Mungkin karena hanya itu yang bisa kupinjam dari sang waktu. Kupinjam, tapi tak pernah kumiliki. Karena aku tak pernah punya kuasa untuk bisa benar-benar mengambilnya dan menjadikannya milikku. Aku hanya bisa meminjamnya. Meminjam dari sang waktu, atau perempuan yang seharusnya tak kuketahui namanya itu.

Hanya meminjam…

Aku ada. Aku ada di sini. Aku. Yang ada di sini. Untukmu. Aku.
Berpalinglah…
Dan melihat padaku…

This is the place where I sit
This is the part where
I love you too much
Is this as hard as it gets?
‘Cause I’m getting tired
Of pretending I’m tough
I’m here if you want me
I’m yours, you can hold me
I’m empty and taken and
Tumbling and breakin’

‘Cause you don’t see me
And you don’t need me
And you don’t love me
The way I wish you would
The way I know you could

I dream of worlds
Where you’d understand
And I dream a
Million sleepless nights
I dream of fire when
You’re touching my hand
But it twists into smoke
When I turn on the lights
I’m speechless and faded
It’s too complicated
Is this how the book ends,
Nothing but good friends?

‘Cause you don’t see me
And you don’t need me
And you don’t love me
The way I wish you would

This is the place in my heart
This is the place where
I’m falling apart
Isn’t this just where we met?
And is this the last chance
That I’ll ever get?
I wish I was lonely
Instead of just only
Crystal and see-through
And not enough to you

‘Cause you don’t see me
And you don’t need me
And you don’t love me
The way I wish you would

‘Cause you don’t see me
And you don’t need me
And you don’t love me
The way I wish you would
The way I know you could

[on the chart : Marlboro Lights, Aqua (neat!), Radiohead – True Love Waits, Switchfoot – Only Hope, Mandy More – Only Hope, The Sundays – Thinking About You, Jossie and The Pussycats – You Don’t See Me]

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s