Kenapa pertanyaan ‘kenapa’ harus diciptakan?

Contoh pertanyaan-pertanyaan yang menggunakan kata “kenapa” yang diajukan pada saya.
1. “Kenapa kamu belom mandi?”
Buat apa mengetahui alasan saya belum mandi? Yang penting kan faktanya saya memang belum mandi.

2. “Kenapa kamu merusakkan mainannya?”
Buat apa mengetahui alasan saya merusakkan mainan orang lain? Yang penting kan faktanya mainan itu sudah rusak.

3. “Kenapa kamu suka sama saya?”
Pertanyaan paling bodoh. Yang penting faktanya adalah saya suka sama kamu! Kadang saya sendiri nggak tau kenapa. Because you’re so goddamn stupidly smart? Saya rasa ada orang lain yang lebih smart dari kamu. Because you’re so unbelievably handsome? Nope, you’re not. Karena saya merasa begitu nyaman berada dekat denganmu? Saya pernah merasa lebih nyaman dengan orang lain. Karena bola matamu yang berwarna coklat keabu-abuan itu? Nggak ada hubungannya! Jadi kenapa? Nggak penting! Yang penting faktanya saya suka sama kamu. Yet, banyak orang yang menanyakan pertanyaan bodoh seperti ini.

Lalu kalau posisinya dibalik, saya sebagai penanya.
4. “Kenapa kamu tidak merespon saya?”
Apa kamu bisa jawab? Mungkin bisa. Tapi buat saya, yang penting adalah faktanya, bahwa kamu tidak merespon saya. Jadi buat apa juga kamu melemparkan pertanyaan ketiga? Toh, setelah kamu tahu mengapa saya suka kamu, tetap saja kamu tidak merespon saya.

Pertanyaan berikutnya.
5. “Kenapa kamu tidak merespon saya, tapi juga tidak mau melepaskan saya?”
Saya tahu jawabannya. Pasti ada hubungannya dengan ego kamu. Dan saya tetap tidak bisa menerima jawaban itu. Masuk akal, tapi terlalu sederhana. Jawaban itu tidak cukup untuk saya. Jadi buat apa saya tahu alasan mengapa kamu tidak merespon saya juga tak mau melepaskan saya? Yang penting faktanya begitu.

Dan pertanyaanpun berlanjut.
6. “Kenapa saya begitu ingin pergi, tapi akhirnya saya justru merasa kosong, sakit, sedih dan tidak rela setiap kali saya memutuskan untuk pergi?”
Saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Karena faktanya, saya tidak pernah berhasil untuk benar-benar pergi.

7. “Kenapa saya meminta kamu untuk pergi, padahal dalam hati, saya sama sekali nggak mau kamu tinggalkan?”
Mungkin karena saya perempuan. Perempuan berpikir memakai hati. Tapi jumlah testosteron dalam tubuh saya di atas rata-rata. Jadi saya merasa bahwa logika saya harus menang melawan hati. Perlawanan logika dan hati? Hanya menimbulkan sakit dan depresi berkepanjangan.

Ya, saya tahu kenapa pertanyaan “kenapa” itu diciptakan.
Agar saya bisa mendapat semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas.
Agar saya bisa menanyakan semua pertanyaan itu.
Agar saya bisa menanyakan: “kenapa pertanyaan “kenapa” harus diciptakan?”
Tapi kenapa saya tidak pernah mendapat jawaban yang bisa saya terima?
Karena saya hanya harus menerima faktanya saja.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s