Aku berada di depan komputerku. Mendengarkan Pachelbel – Canon versi piano. Dan tiba2 aku sudah berada di dunia yang lain. Di dunia yang hanya ada dalam mimpi2ku. Dunia yang gambarnya tidak bisa ditangkap otakku secara utuh, tapi dapat kurasakan. Mungkin Deja Vu. Entahlah. Mungkin dunia dari kehidupanku sebelumnya, atau dunia dari suatu waktu di masa kecilku. Yang aku tahu dunia itu indah. Sangat indah. Mungkin itu surga. Bukan… bukan surga. Tak mungkin ada banyak lampu di surga. Ibuku pernah bilang, surga adalah tempat yang indah. Sangat indah. Jalannya terbuat dari emas dengan batu2an berlian. Tidak pernah malam di surga. Selalu siang. Tapi di dunia khayalanku ini malam. Selalu malam. Aku benci siang! Karena tidak ada yang menyalakan lampu saat siang hari. Aku suka lampu. Dan di duniaku ini, dunia khayalanku, penuh dengan lampu. Banyak sekali lampu. Lampu merah, kuning, putih, biru, hijau. Berwarna warni. Berpijar. Indah sekali. Lebih indah dari pada surga, aku memastikan.

Hanya sebuah jalan. Jalan besar dengan townhouse di kanan kirinya. Mungkin sedikit salju. Ya! Aku terobsesi pada salju. Dingin, tapi selalu mampu membuat segalanya jadi lebih indah. Tidak ada orang di sana. TIdak ada orang yang mengendarai mobil, tidak ada orang yang berjalan ataupun sekedar berdiri di balik jendela, menatap ke arah jalan, menikmati lampu2 yang cantik itu. Hanya ada aku, berdiri di sudut, menikmati semua keindahan itu. Dunia yang sunyi, sepi, aman, damai.

Enya – Waterfall membuyarkan lamunanku. Merenggutku paksa dari dunia khayalanku. Aku mengusap mataku yang mulai lelah. Basah. Aku menangis? Mengapa aku menangis? Menangis bahagiakah? Menangis sedihkah? Aku tidak tau apa yang sedang kurasakan. Sepi… ya aku merasa sepi. Tapi… Hey! Bukankah aku selalu menikmati kesepianku?

Berdiri, membawa mugku yang berisi setengah kopi pahit yang sudah mulai dingin, aku berjalan menghampiri jendela. Menyibak tirai ungunya, dan melihat ke arah jalan, tapi tidak benar2 melihat. Sibuk dengan pikiranku sendiri. Apa yang sedang kulakukan? Dan tiba2 suara dari dalam kepalaku, suara yang jujur, “hey… you’re just living your life”. Entah mengapa aku merasa itu tidak cukup. “Memang tidak cukup. Tidak akan pernah cukup,” jawab suara itu lagi. Jadi apa lagi yang harus kulakukan?

Aku menutup tirai jendela, setelah beberapa menit terdiam tanpa mendapat jawaban apapun. Meletakkan mugku di atas meja, kemudian duduk di atas karpet tebalku. Menyalakan sebatang rokok dan menghirupnya dalam2. Menyuplai nikotin ke dalam paru2ku sebanyak yang aku bisa. Mencoba berpikir. Tapi sepertinya otakku sama sekali tidak mau bekerja sama. Jadi aku hanya diam. Membaringkan tubuhku di atas karpet tebal itu, menatap langit2 kamarku, dan diam. Kalau menajalani hidup saja tidak akan pernah cukup, lalu apa lagi yang harus kulakukan? Apa?

Pachelbel – Canon Versi Piano. Dan jalan sepi dengan lampu2 yang cantik itu kembali. Ini yang aku inginkan. Berada dalam dunia khayalanku. Surgaku sendiri. Mungkin aku terlalu lelah. Lelah menjalani hidupku. Mungkin aku perlu sedikit beristirahat. Aku ingin tidur, bangun dan mendapati diriku berada dalam surgaku. Mungkin inilah waktunya aku mengucapkan doa. Doa yang selalu diajarkan ibuku waktu aku masih kecil.

Dear Lord,
Now I lay me down to sleep,
I pray the Lord my soul to keep.
If I should die before I wake,
I pray the Lord my soul to take…

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s