Tangisan yang meledak bersamaan dengan ledakan orgasme.

Can we call it “Make Love“?

Setiap sentuhan kamu, setiap belaian, setiap ciuman, setiap sapuan lidah, keluar seperti jeritan hati yang lama tertahan.

Setiap genggaman kamu, setiap rengkuhan, setiap pelukan, setiap cakaran, setiap gerakan naik turun, seperti ingin melumat dan menghancurkan setiap partikel di tubuh saya.

Dan…

Di setiap tetesan keringat saya, di setiap desahan nafas, di setiap lenguhan, saya memanggil nama kamu.

Setiap saya memandang ke dalam mata kamu, berharap kamu mengerti apa yang sedang saya rasakan.

Kita bergerak semakin cepat dan semakin cepat… Berpacu menuju puncak…

Dan ketika semuanya meledak, kamu memeluk badan saya lebih erat, kamu mengerang, dan di sela2 erangan kamu, kamu mendesahkan kata2 yang ngga akan saya lupakan “Saya sayang kamu….

Tiba2 semuanya berubah jadi sunyi. Diam. Tenang. Dan kamu memeluk saya lebih erat, masih di dalam saya, kamu berbisik lagi “Saya sayang kamu!

Saat itu tangis saya pun meledak! Tangis yang selama ini tertahan oleh sisa2 ketegaran yang saya punya. Meledak begitu saja. Seperti air yang menerobos menjebol bendungan. Dan kamu memeluk saya lebih erat lagi, sama seperti saya memeluk kamu. Kamu membelai rambut saya, merengkuh, menenangkan, memberi damai….

So, did we make love, or just have sex?

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s