Akhirnya nama kamu muncul di layar handphone saya.

1 pertanyaan meluncur dari mulut kamu tepat setelah kata “halo”. “Remind me, kenapa kamu menghindari saya?” Sambil tertawa kecil saya menjelaskan mengapa saya menghindari kamu. Saya menjelaskan bahwa betapa kita ngga punya masa depan. Saya menjelaskan bahwa bagaimana ini akan menjadi semakin dalam. Semakin sulit. Dan saya menjelaskan bahwa akan lebih baik kalau dihentikan sekarang sebelum terlalu dalam dan terlalu sakit.

Tapi ini sakit!

Saya bertanya apakah kamu kangen? Dan kamu menjawab “Ya, well… kinda… ****” Dan kamu mengumpat. Saya tertawa. Dan saya bertanya apa yang kamu pikirkan selama beberapa hari ini. Dan sekilas kamu bilang “Well, saya sama sekali ngga mikirin kamu. Sampai tadi hujan dan saya tiba2 teringat sama kamu. ****! Ntah kenapa setiap hujan, saya selalu teringat sama kamu.” Kamu tertawa. Saya tertawa. Dan saya bilang kalau saya adalah Dewi Hujan. Sama seperti yang saya bilang ke kamu beberapa hari yang lalu. “Yeah… rite…” Lalu kamu mulai bercerita, “saya sedang di jalan. Dan saya berpikir… belok… ngga… belok… nggak…” Dan saya bertanya jam brapa kira2 kamu ada di jalan. “Hmm… Maghrib”. Well, saya bilang kalau kamu ke tempat saya sekitar maghrib, kamu ngga akan menemukan saya di sana. “Dan kamu ada di….. ?” Saya bilang sekarang saya sedang ada di lembang. Kamu terdiam sebentar. “Kamu sama siapa?” Dan menebutkan nama 2 orang yang sedang bersama dengan saya. Satu dari mereka kamu kenal. Perempuan. “Dan cowo itu? Siapa? Gbt kamu? atau gbt teman kamu?” Saya tertawa. Just some guy. Dan saya bertanya balik, kamu mengharap cowo itu gbt siapa. “Yah.. well… No future! Jadi ga penting itu gbt siapa.” Hmm… Kalau ngga penting, dan kenapa kamu bertanya? Itu yang saya bilang ke kamu. “ya.. For God sake!!! Sebulan ini kamu selalu bareng sama saya. Dan nama itu ngga pernah kesebut. So who the hell is he! Itu aja!” Saya bilang anggep aja kalo dia just-a-new-guy. Kamu sedikit terdiam. Lalu tertawa kecil. “Hmm… Kenapa sekarang jadi saya yang bete?” Dan saya bilang ke kamu kalau ini ngga terlalu berat. Cmon… How hard can it be?

Tapi ini berat!

Kalau ini memang sebuah permainan, ijinkan saya untuk merasa menang. Untuk kali ini saja saya merasa menang. Ternyata kamu memikirkan saya. Hey! Ini bulan desember. Setidaknya hujan akan turun minimal sekali setiap hari. Dan itu berarti paling ngga kamu akan memikirkan saya sekali setiap hari. Yah itu anggapan saya. Saya bisa saja salah. Jadi biarkanlah saya menikmati perasaan ini.

Sekali lagi nama kamu muncul di layar handphone saya tepat ketika saya sedang memimpikan kamu.

“Kamu lagi ngapain sih? Kok lemes?” Kata2 itu kamu ucapkan bahkan sebelum kata “halo”. Saya bilang kalau saya sedang ngga ngelakuin apa. Dan jelas saya ngga akan bisa bilang kalau saya sedang memimpikan kamu kan? Kamu membicarakan pekerjaan. Dan saya hanya berpikir, oh ok, jadi kamu tlp saya hanya untuk masalah pekerjaan. Bukan sesuatu yang istimewa. Dan tiba2 kamu bertanya “Kamu kangen sama saya ngga?” Saya sedang berpikir untuk menjawab apa, dan tiba2 kamu menjawab pertanyaan kamu sendiri “Yah… you dont! Dan walopun kamu kangen, saya tau kamu akan bilang enggak.” Bukan seperti yang ada di otak saya. Saya ingin menjawab, tepatnya, Saya ingin memohon agar kamu mau keluar dari kepala saya. Saya bertanya kamu ada dimana, dan kamu bilang kamu masih di luar kota. Dan saya bertanya kapan kamu akan pulang. “Sabtu.” Dalam hati saya mengerang. Sabtu masih lama. Tapi apa bedanya? Kalaupun sabtu kamu pulang, apa yang saya harapkan? Bertemu kamu? Yah, well.. saya memang harus ketemu kamu. Lalu? Berharap kamu akan bilang kalau kamu ngga mau semuanya berakhir? Berharap bahwa kita akan mengulangi semua yang selalu kita lakukan setiap hari selama sebulan ini? Bukan sesuatu yang benar. Indah… Tapi jelas tidak benar.

Dan setelah tlp di tutup, tiba2 saya berpikir bahwa ini bukan lagi masalah menang atau kalah. Ini bukan lagi masalah siapa menaklukan siapa. Ini bukan permaianan. Persetan dengan permainan! Kalau memang kita masih sangat menginginkan untuk menikmati semuanya berdua, lalu kenapa ngga bisa? Kenapa ngga kita jalani aja yang ada. Yang kita punya memang sedikit. Lalu kenapa ngga nikmati saja yang sedikit itu? Kita masih ada waktu beberapa minggu sampai harus berpisah. Kenapa ngga kita pergunakan waktu yang sedikit itu sebaik2nya? Kenapa kita saling menyiksa diri? Ngga… tepatnya… kenapa saya menyiksa diri sendiri? Kenapa ego saya begitu besar untuk mengakui kalau saya mau memberikan apa saja untuk berada di dalam pelukan kamu lagi. Kenapa saya begitu keras hati untuk mengakui kalau saya ingin merasakan tangan kamu menggenggam tangan saya? Mengapa harga diri saya begitu tinggi untuk mengakui kalau saya merasa nyaman hanya dengan berbaring di sebelah kamu. Memang nyaman. Agak terlalu nyaman.

Dan akhirnya saya tau. Saya takut merasa terlalu nyaman. Saya takut kecanduan. Saya takut kalo saatnya datang untuk melepas kamu. Saya takut membuka hati. Saya takut sakit….

Ini sakit… Ini berat… Tapi saya tahu, saya sudah melakukan hal yang benar.

[On The Chart : Misfits – Saturday Night, Dashboard Confessional – This Bitter Pill, Marlboro putih, Aqua tanpa es batu]

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s